Saturday, July 18, 2026
Menghadapi Krisis Dengan Panduan Syariat
📗 Menghadapi Krisis Dengan Panduan Syariat
👤 Ustadz Doktor Firanda Andirja حفظه الله
📅 18 Juli 2026, 09.00 WIB.
Tabiat dalam kehidupan adalah kita akan mengalami masa-masa kritis dan krisis.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)
Allah menciptakan umat ini dengan nabi yang terbaik dan generasi terbaik, sehingga yang mempelajari Sirah Nabawiyah akan mendapati berbagai macam ujian yang dihadapi nabi dan para sahabat.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana ujian yang menimpa umat Islam diawal dakwah, ujian yang menimpa Bilal bin Rabah dan keluarga Amr bin Yassir. Ujian akan selalu datang dan harus dihadapi, hingga pada saat umat Islam harus hijrah ke Madinah, umat Islam mengalami krisis ekonomi dan disitu Rasulullah mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin.
Demikianlah juga dalam keluarga Rasulullah terjadi krisis dimana para istri-istri Rasulullah sepakat meminta uang tambahan, hingga Rasulullah meninggalkan mereka sementara selama 1 bulan, hingga Allah berikan jalan keluar.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ٢٨
وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا ٢٩
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, 'Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan kuberikan kepadamu mut'ah (pemberian) dan aku akan menceraikan kamu dengan cara yang baik.'
'Dan jika kamu menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja di antara kamu yang berbuat baik.'"
(QS. Al-Ahzab: 28–29)
Berikutnya juga adalah ketika tahun-tahun kesedihan, saat istri beliau Khadijah meninggal, kemudian paman beliau Abu Thalib meninggal dan beratnya ujian dakwah di Thaif.
Bahkan setelah Rasulullah meninggal terjadi krisis munculnya orang yang murtad dan nabi palsu musailamah Al Kadzab beserta 50000 orang pengikutnya yang siap berjuang dijalan kesesatan.
Oleh karenanya solusi yang terbaik adalah solusi yang dicontohkan oleh Rasulullah.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Bagaimana nabi Yakub mengalami ujian dan mengucapkan ucapan yang baik.
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Yusuf [12]: 86)
Bagaimana imam Syafi'i tidak pernah mengadukan kesedihan dalam bentuk syair-syair. Untuk menghadapi Krisis ditempuh dengan 2 cara, secara Syariat dan secara Praktis.
Bagaimana nabi Musa menghadapi krisis ketika memukul salah satu orang Mesir hingga meninggal yang mengharuskan beliau hijrah ke Madyan dan menggembalakan kambing selama 10 tahun dari kondisi sebelumnya serba kecukupan dalam naungan Fir'aun berubah menjadi penggembala kambing di negeri asing.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25–28)
Maka persiapan secara Syariat dalam menghadapi Krisis didahulukan sebelum persiapan atau cara praktis.
Dalam perang Ahzab ketika kaum Muslimin di Madinah dikepung oleh gabungan berbagai suku Arab dan sekutu mereka. Dalam situasi yang sangat berat itu kaum muslimin dalam keterangan karena telah siap dalam keimanan secara syariat.
Surah Al-Ahzab ayat 10-11 :
إِذْ جَاءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
"Yaitu ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, ketika penglihatanmu terpana, hatimu menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah."
هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
"Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan (iman mereka) dengan guncangan yang sangat dahsyat."
Maka diantara yang penting adalah "Iman, menghadirkan kelapangan dada" dalam menghadapi krisis, berbagai macam krisis.
Imam Ahmad bin Hambal ditanya kapan kita beristirahat dari ujian ?
قِيلَ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟
فَقَالَ: عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, 'Kapan seorang hamba akan merasakan istirahat yang sesungguhnya?' Beliau menjawab, 'Ketika pertama kali ia melangkahkan kakinya ke dalam surga.'
📝 Bagaimana menghadapi krisis secara syariat :
1. Bersabar, bukan berarti pasrah tanpa berusaha.
Allah mencintai orang yang bersabar.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
"Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." ( AS. Ali 'Imran ayat 146)
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun duka, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karena itu."
(HR. Sahih al-Bukhari No. 5641–5642; Sahih Muslim No. 2573)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
HR. Jami' at-Tirmidzi No. 2398 (dinilai hasan sahih oleh Imam At-Tirmidzi), juga diriwayatkan oleh Sunan Ibnu Majah No. 4023 dan Musnad Ahmad.
Ujian dan musibah dapat menjadikan seseorang menjadi merendahkan diri kepada Allah, menghilangkan kesombongan, dan inilah yang Allah inginkan.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
"Sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri (berdoa dan kembali) kepada Allah."
(QS. Al-An'am: 42)
2. Bertaubat, tidaklah datang ujian dan musibah diantaranya karena dosa.
Ucapan Ali bin Abi Tholib
مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ
"Tidaklah suatu musibah turun melainkan karena dosa, dan tidaklah musibah itu diangkat melainkan dengan taubat."
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura: 30)
Doa Nabi Yunus ketika menghadapi musibah
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Anbiya: 87)
3. Jangan pernah mencari solusi dengan maksiat, senantiasa berbaik sangka pada Allah, apapun yang terjadi bertakwalah kepada Allah.
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ، فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ، ثُمَّ يَكُبُّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
"Barang siapa melaksanakan salat Subuh, maka ia berada dalam tanggungan (perlindungan dan jaminan) Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian karena melanggar tanggungan-Nya. Sebab, siapa yang dituntut Allah karena melanggar tanggungan-Nya, niscaya Allah akan mendapatkannya, kemudian melemparkannya dengan wajahnya ke dalam Neraka Jahanam." (Hadis Riwayat Muslim no. 657).
4. Tetap berharap pada Allah dan tidak putus asa.
Surah Ash-Shaffat 100-101 :
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
📝 Bagaimana menghadapi krisis secara realitas :
1. Menata kemampuan : menempuh mudharat yang lebih ringan, musyawarah & mengatur sumberdaya.
2. Tidak boleh berputus asa, tetap berusaha.
3. Tidak semua berita dibenarkan dan disebarkan.
Barakallahu fiikum.
Wa jazakumullahu khair.
Thursday, May 14, 2026
Mengingkari Dunia Dengan Amalan Akhirat
﷽
📗 Mengingkari Dunia Dengan Amalan Akhirat
👤 Ustadz Abdullah Amir Maretan حفظه الله
📅 14 Mei 2026, Ba'da Maghrib
📹 Live streaming : https://www.youtube.com/live/hdKSDLkdaUY?si=sMj2QplYLLUau7kD
🏠 Masjid Al-Aziz
📍 Jl. Soekarno Hatta No. 662, Bandung
Setelah syaikh menjelaskan hakikat keikhlasan dan keutamaannya, beliau menjelaskan mengenai gelapnya ketika seseorang menginginkan dunia dengan amalan-amalan akhirat yang sudah semestinya dia lakukan, amalan ketaatan semestinya dilakukan semata-mata karena Allah.
Berbahayanya menginginkan dunia dengan amalan akhirat.
Diantara marabahaya yang besar ketika seseorang melakukan amalan-amalan sholeh namun kemudian dengan amalan tersebut dia menginginkan bagian dari kenikmatan dunia ini ¹ diantara bentuk kesyirikan, ini bertentangan dengan kesempurnaan tauhid dan ² menggugurkan amalan Sholeh yang dikerjakan tersebut, menginginkan dunia dengan amal Sholeh jauh lebih berat daripada riya', karena ; Obsesinya hanya dunia, keinginan terhadap dunia seringkali mengalahkan keikhlasannya dalam beramal. Sedangkan riya' terkadang menimpa satu amalan namun amalan yang lain tidak.
Andapun orang beriman berhati-hati dari riya' maupun menginginkan dunia dengan amalan akhirat, dua perkara ini memiliki kekhususan masing-masing, tetapi juga dalam keadaannya secara dzohir memiliki kemiripan.
Ketika seseorang memperindah amalannya dihadapan manusia, dan target yang dikejar adalah mendapatkan penghormatan dan pujian dari manusia. Karena sanjungan dan pujian adalah diantara bentuk kenikmatan dunia. Bisa jadi seseorang melakukan amalan akhirat yang tidak dilihat manusia namun dia menginginkan dunia dari amalan yang dilakukannya, diantara contohnya : seseorang melakukan amalan haji (badal) untuk mendapatkan uangnya, atau contoh lainnya adalah berjihad untuk sekedar mendapatkan ghanimah.
Kenikmatan dunia bukan merupakan tanda kecintaan Allah, karena tanda Allah mencintai seseorang adalah :
إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ
“Sesungguhnya Allah membagi akhlak kalian sebagaimana Dia membagi rezeki kalian. Dan sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Tetapi Allah tidak memberi agama (iman/hidayah) kecuali kepada orang yang Dia cintai.”
Orang yang riya' dan yang melakukan amalan akhirat untuk kepentingan dunia kedua-duanya merugi, dan pelakunya dimurkai oleh Allah. Syaikh kemudian mengingatkan betapa rugi pelakunya :
1. Tidak akan pernah mulia seseorang yang menginginkan dunia dengan amalan akhirat.
Surah Hud Ayat 15 - 16 :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat selain neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
Yang membuat kita beramal untuk mendapatkan dunia adalah karena kita tidak mengetahui rendahnya dunia.
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi orang kafir seteguk air pun darinya.”
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ، فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟
قَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟
قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟
قَالُوا: وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ؛ لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟
فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ melewati pasar dan orang-orang berada di sekeliling beliau. Lalu beliau melewati seekor anak kambing cacat telinganya yang sudah mati. Beliau memegang telinganya lalu bersabda:
“Siapa di antara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?”
Mereka menjawab: “Kami tidak mau walaupun gratis. Apa gunanya?”
Beliau bersabda: “Apakah kalian suka jika itu menjadi milik kalian?”
Mereka berkata: “Demi Allah, kalau masih hidup saja itu cacat karena telinganya rusak, apalagi sudah mati.”
Maka beliau bersabda:
“Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing ini di mata kalian.”
إِنَّ اللَّهَ لَيَحْمِي عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ مِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah benar-benar melindungi hamba-Nya yang beriman dari dunia padahal Dia mencintainya, sebagaimana kalian melindungi orang sakit kalian dari makanan dan minuman yang kalian khawatirkan membahayakannya.”( Hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dari Qatadah bin An-Nu'man).
Surah Al-Isra ayat 18 - 19 :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا
“Barang siapa menghendaki kehidupan yang segera (dunia), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
2. Kenikmatan dunia yang diinginkan pun hanya akan diperoleh ketika Allah menghendaki memberikannya.
Surah Asy-Syura ayat 20:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”
Oleh karena itu hendaknya orang yang beriman mengikhlaskan ibadah/amal shaleh semata-mata karena Allah.
Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.
Wednesday, February 18, 2026
Paloalto 100% full /opt/pancfg

﷽
On Palo Alto Networks firewalls, a 100% full /opt/pancfg partition is a known critical issue and can break commits, upgrades, and logging. Your output shows exactly that:
rizky@PANOS> show system disk-space
Filesystem Size Used Avail Use% Mounted on
/dev/nvme0n1p3 32G 6.8G 23G 23% /
none 16G 72K 16G 1% /dev
/dev/nvme0n1p5 63G 62G 1G 100% /opt/pancfg
So here is the quickfix, first of all always backup before performing any changes in the configuration :
rizky@PANOS> config
rizky@PANOS# save config to RIZKY-CONFIG
Config saved to RIZKY-CONFIG
[edit]
1) Check disk space, specifically /opt/pancfg :
rizky@PANOS> show system disk-space
Filesystem Size Used Avail Use% Mounted on
/dev/nvme0n1p3 32G 6.8G 23G 23% /
none 16G 72K 16G 1% /dev
/dev/nvme0n1p5 63G 62G 1G 100% /opt/pancfg
/dev/nvme0n1p6 32G 7.9G 22G 27% /opt/panrepo
tmpfs 16G 5.6G 9.9G 36% /dev/shm
cgroup_root 16G 0 16G 0% /cgroup
/dev/nvme0n1p8 267G 25G 228G 10% /opt/panlogs
2) Enable Aggressive Log Cleaning :
rizky@PANOS> debug software disk-usage aggressive-cleaning enable
This will automatically purge all old log files if disk hits 95% occupancy. Do you accept this potential loss of debuggability? (y or n) y
Verify :
rizky@PANOS> show system state | match aggressive-cleaning
cfg.debug-sw-du.config: { 'aggressive-cleaning': True, }
3) Enable deep cleaning at 90% :
rizky@PANOS> debug software disk-usage cleanup deep threshold 90
3) Clean unused/old update :
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean
> config Clean unused saved configurations
> dynamic-updates Clean unused dynamic updates
> software-images software-images
Clean old backup config :
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean config saved
DEFAULT 2024/02/10 10:01:23 2176.8K
DEFAULT-10FEB2024 2024/02/10 10:01:33 2176.8K
PaloAlto-3010-17JAN24-LB 2024/01/17 19:20:08 2032.8K
PaloAlto-3010-17JAN24-LB-PRD 2024/01/17 19:45:14 2029.4K
PaloAlto-3010-17JAN24-LBNET 2024/01/17 19:42:49 2033.2K
autosave-10.2-20230728.xml 2023/07/28 14:32:09 1823.0K
<value> Filename
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean config saved PaloAlto-3010-17JAN24-LB
Clean old anti-virus update :
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean dynamic-updates anti-virus update panup-all-antivirus-xxxx-xxxx.tgz
successfully removed panup-all-antivirus-xxxx-xxxx.tgz
Clean old content update :
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean dynamic-updates content update panupv2-all-contents-xxxx-xxxx.tgz
successfully removed panupv2-all-contents-xxxx-xxxx.tgz
Clean old software update :
rizky@PANOS> debug pancfg-directory-usage clean software-images version 10.x.x-hxx
Successfully removed image
Barakallahu fiikum,
Wa jazakumullahu khair.
Saturday, December 27, 2025
Sebab-sebab Hati Berpenyakit
﷽
📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala
🗓️ Sabtu Pagi, 6 Rajab 1447 H
🗓️ 27 Desember 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
Sebab-sebab yang menjadikan hati berpenyakit, hati manusia bisa sehat dan bisa sakit sebagaimana hati itu juga bisa hidup dan bisa mati, penyakit hati akan memisahkan seseorang dari Allah dan negeri akhirat sehingga jauh lebih berbahaya dari kematian, maka menjaga kesehatan hati jauh lebih penting dari menjaga kesehatan jasmani, walaupun menjaga kesehatan jasmani juga penting untuk dapat beribadah dengan baik.
Penyakit hati ini dapat menular sebagaimana penyakit dapat menular dengan ijin Allah, sebab-sebab:
1) Kesyirikan kepada Allah.
Siapapun yang melakukan kesyirikan kepada Allah maka hatinya tidak akan pernah bersih. bahkan Allah sifati pelakukanya lebih rendah dari binatang ternak.
QS. Al-Furqan (25): 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.
Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hak-hak kekhususan Allah, ada 3 Hak kekhususan Allah :
1. Dalam perbuatan Allah (Rububiyah), contohnya : menciptakan, mematikan, memberikan rizki.
2. Dalam perbuatan mahluk ketika menyembah dan beribadah kepada Allah (Uluhiyah), contohnya : menyembelih, tawakal, istighosah, istianah.
3. Dalam nama-nama dan sifat Allah yang maha sempurna, contohnya : Allah maha pengasih (Ar Rahman), Allah maha penyayang (Ar Rahim).
2) Perbuatan maksiat dan dosa.
Perbuatan maksiat dan dosa akan menimbulkan penyakit hati, baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar. QS. Al-‘Ankabut (29): 40
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing (kaum) Kami siksa karena dosanya; di antara mereka ada yang Kami kirimkan hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
Para ulama mengatakan bahwa pelaku dosa sejatinya sedang mendzolimi dirinya sendiri, maka hendaknya berusaha untuk menghindari dosa-dosa tersebut. Sesungguhnya satu maksiat akan mengundang maksiat yang lain.
Hadist dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dan dinilai hasan oleh para ulama. (Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dengan lafaz yang mirip)
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ ذَلِكَ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بِبَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ إِذَا أُخِذَ بِهَا صَاحِبُهَا أَهْلَكَتْهُ
Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil yang diremehkan. Perumpamaannya seperti suatu kaum yang singgah di lembah; yang satu datang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga mereka dapat memanggang roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu, bila diambil (dipertanggungjawabkan) pada pelakunya, akan membinasakannya.
Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ
Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis (lebih ringan) daripada rambut, padahal pada masa Rasulullah ﷺ kami menganggapnya termasuk dosa-dosa yang membinasakan. (HR Bukhari)
Fawaid ulama :
"Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."
3) Lalai dari berdzikir mengingat Allah.
Ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah
ذِكْرُ اللَّهِ دَوَاءٌ، وَذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ
Mengingat Allah adalah obat, sedangkan mengingat manusia adalah penyakit.
QS. Al-Anbiyā’ (21): 97
وَٱقْتَرَبَ ٱلْوَعْدُ ٱلْحَقُّ فَإِذَا هِىَ شَٰخِصَةٌ أَبْصَٰرُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ يَٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِى غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَٰلِمِينَ
Dan telah dekat janji yang benar. Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir (seraya berkata), “Celakalah kami, sungguh kami dahulu lalai tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit.
4) Berpaling dari ilmu agama Allah dan sunnah Rasulullah.
Banyak sekali manusia jaman ini lebih pintar ilmu dunia namun bodoh dalam urusan agama.
QS. Thāhā (20): 124–126
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ ﴿١٢٤﴾
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا ﴿١٢٥﴾
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ ﴿١٢٦﴾
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”
Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya; dan demikian pula pada hari ini engkau dilupakan.”
5) Sibuk dengan urusan dunia sehingga mencintainya berlebihan.
Ketika seseorang telah tersibukkan dengan urusan dunia maka akan melupakan dirinya dari hal yang lebih penting dari urusan agamanya.
QS. Al-A‘rāf (7): 175–176
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيْنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ ٱلشَّيْطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾
Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu dia melepaskan diri darinya; maka setan mengikutinya, lalu jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya dia terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya dia tetap terengah-engah. Itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
Pendapat para ulama ayat diatas terkait dengan Bal‘am bin Bā‘ūrā’ umatnya nabi Nabi Musa عليه السلام.
Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan lebih mendahulukan hawa nafsunya.
Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan melupakan tugas utamanya diciptakan didunia ini.
Maka pentingnya seseorang untuk mengaji ilmu syari'at.
وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Barakallahu fiikum
Jazakumullahu khair.
Saturday, November 22, 2025
Celah-celah setan masuk kedalam hati (bagian 3)
﷽
📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala
📱 https://www.youtube.com/live/PMmqJoWpE40?si=_Xzp5ErXnWRhUV9k
7) Suudzon / Prasangka buruk.
Jauhi prasangka buruk, Nasihat ulama "seorang mukmin akan mencarikan udzur bagi saudaranya, adapun orang munafik akan mencari ketergelinciran saudaranya."
Surat Al-Hujurât Ayat 12.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Terdapat 3 dosa dari ayat diatas yang harus dihindari :
1. Suudzon/ berprasangka buruk.
2. Tajasus / mencari-cari kesalahan.
3. Ghibah / menggunjing kesalahan.
Hadist :
اِیَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta ucapan.
Jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan iri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
— (HR. Bukhari dan Muslim)
حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ
“Berbaik sangka adalah bagian dari baiknya ibadah.”
— (HR. Tirmidzi – hasan)
Dan buruk sangka paling buruk adalah berburuk sangka pada Allah, karena syaitan akan berusaha memasukkan perasaan ini kedalam hati manusia ketika mengalami musibah ataupun tertimpa hal-hal yang tidak diharapkan.
Macam-macam prasangka buruk :
1. Suudzon yang haram.
Kepada sesama mukmin tanpa bukti dan kepada Allah.
2. Suudzon yang diperbolehkan.
Kepada manusia yang memang dikenal penuh keraguan dan sering melakukan maksiat dan dosa.
Kepada manusia yang disertai data bukti dan fakta.
3. Suudzon yang dianjurkan.
Suudzon kepada musuh dalam satu pertempuran.
Para penegak hukum.
4. Suudzon yang wajib.
Suudzon yang dibutuhkan dalam rangka kemaslahatan syariat.
contohnya dalam perkara ilmu jarh dan ta'dil dalam menilai perawi hadist.
8) Al Ajalah / Terburu-buru
Pada Al-Anbiyā’ ayat 37
خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Aku akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kuasa)-Ku, maka janganlah kalian meminta-Ku menyegerakannya.”
Pada Al-Isrā’ ayat 11.
وَيَدْعُ الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا
“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu memang bersifat tergesa-gesa.”
Contoh ketergesa-gesaan yang tercela :
1. Tergesa-gesa dalam berdoa.
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
— HR. Bukhari dan Muslim
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan.’”
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا»
قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ.
قَالَ: «اللَّهُ أَكْثَرُ»
(HR. Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Hakim – shahih)
“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan sebuah doa—yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahmi—melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal:
1. Doanya dipercepat bagi dirinya,
2. Doanya disimpan sebagai pahala di akhirat,
3. Allah menolak darinya keburukan yang semisal dengan doanya.”
Para sahabat berkata: ‘Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’
Nabi ﷺ bersabda: ‘Allah lebih banyak (memberi).’
2. Tergesa-gesa saat iqomah dikumandangkan.
Disunnahkan mendatangai dengan tenang tidak berlari dan segera mengikuti gerakan imam tidak menunggu imam berpindah kegerakan berikutnya.
النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:
«إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Apabila kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju salat dengan tenang dan penuh wibawa, dan janganlah kalian berlari. Apa yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah, dan apa yang terlewat dari kalian, maka sempurnakanlah.”
— HR. Bukhari dan Muslim
3. Tergesa-gesa menghabiskan makanan.
Contohnya serupa dengan saat menghabiskan makanan karena hendak sholat.
إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ، وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
— HR. Bukhari dan Muslim
“Apabila makanan malam telah dihidangkan sementara salat telah ditegakkan, maka mulailah (selesaikanlah) makan malam itu terlebih dahulu.”
4. Tergesa-gesa dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ يَسْمَعُهُ
“Ucapan Rasulullah ﷺ adalah ucapan yang jelas dan terperinci, dipahami oleh setiap yang mendengarnya.”
(HR. Abu Dawud)
Riwayat lain:
كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ
“Beliau berbicara dengan cara yang jika ada orang yang menghitung ucapannya, niscaya ia dapat menghitungnya.”
(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Ahmad)
5. Tergesa-gesa dalam menuntut ilmu.
QS. Al-Qiyāmah ayat 16–19 dalam Arab dan artinya:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
“Janganlah engkau (Muhammad) menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menghafalnya).”
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membuatmu dapat membacanya.”
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
“Maka apabila Kami telah selesai membacakannya (melalui Jibril), ikutilah bacaannya itu.”
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Kemudian sesungguhnya Kami pula yang akan menjelaskannya.”
6. Tergesa-gesa dalam memberikan fatwa dan menjawab pertanyaan.
7. Tergesa-gesa dalam berdakwah.
8. Tergesa-gesa dalam memvonis.
9) Waswas.
Penyakit yang umumnya mengenai Al Abid / ahli ibadah namun tidak berilmu dan dibisikkan oleh syaitan kedalam hati manusia terutama saat beribadah sholat, karena sejatinya syariat Islam adalah mudah.
النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:
«إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا»
“Apabila salah seorang dari kalian merasa ada sesuatu dalam perutnya dan ragu apakah keluar atau tidak, janganlah ia keluar (membatalkan salat), sampai ia mendengar suara atau mencium bau.”
— HR. Muslim
Apabila seseorang ditimpa waswas, saran ulama :
1. Tidak memperdulikannya.
2. Mengambil sikap kebalikan.
3. Berlatih dengan sabar
4. Bayak berlindung dari godaan syaitan.
5. Pelajari cara ibadah yang benar sesuai Sunnah Rasulullah.
10) Ta'assub / fanatik.
النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatik golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena fanatik golongan, dan bukan dari kami orang yang mati di atas fanatik golongan.”
— HR. Abu Dawud
Definisi Ta'assub menurut imam As Syaukani : engkau menjadikan semua pendapat dan ijtihad seseorang menjadi hujjah bagimu dan seluruh manusia. Sebaliknya dalil atau sumber adalah Al Qur'an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman para sahabat, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan, bahkan ulama pun dapat terjatuh pada kesalahan.
Pendapat Imam Syafi'i :
قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي»
“Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku.”
قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَدَعُوا مَا قُلْتُ»
“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ, maka ambillah sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah perkataanku.”
Pendapat Imam Ahmad :
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:
«لَا تُقَلِّدُونِي، وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا، وَلَا الشَّافِعِيَّ، وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ، وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَخُذُوا مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا
“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi‘i, Al-Awza‘i, atau Ats-Tsauri. Ambillah (hukum) dari tempat mereka mengambil.”
(Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:
«رَأْيُ الْأَوْزَاعِيِّ، وَرَأْيُ مَالِكٍ، وَرَأْيُ الشَّافِعِيِّ، كُلُّهُ رَأْيٌ، وَهُوَ عِنْدِي سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْحُجَّةُ فِي الْآثَارِ
“Pendapat Al-Awza‘i, pendapat Malik, dan pendapat Syafi‘i semuanya hanyalah pendapat—semuanya sama di sisiku. Sesungguhnya hujjah itu adalah pada atsar (hadis Nabi dan para sahabat).”
Barakallahu fiikum
Wajazakumullahu khair.
Saturday, November 8, 2025
Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga
Ustadz Abdurrahman Al Amiry hafizahullohuta'ala
📗 Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga.
📌 Masjid Al Azhar Summarecon
🗓️ 8 November 2025, 09.00 WIB.
Nabi Muhammad mengajarkan tauhid kepada keluarga dan anak-anaknya, beliau mengajarkan pada Abdullah Ibnu Abbas (sepupu Nabi) yang masih keluarga dan anak-anak.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ:
«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ».
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Dari Ibnu Abbas berkata:
"Suatu hari aku berada di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:
*'Wahai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu;
jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu.
Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah;
jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'"
(HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hasan sahih).
Dalam hadist diatas ditunjukkan betapa tawadhunya Rasulullah, dalam membawa tunggangan didepan orang yang lebih muda.
Suatu ketika Umar bin Khattab hendak mengadakan rapat besar beserta para alumni badar dan menyertakan Abdullah Ibnu Abbas, Umar berkata "umurnya muda namun akalnya dewasa", hal ini karena oleh Abbas sering didekatkan ke masjid dan berinteraksi dengan Rasulullah dan orang-orang Sholeh.
Mengajarkan tauhid adalah sedari kecil sebagaimana Luqman mengajar anaknya ketika kecil.
Al-Qur’an – Surah Luqman ayat 13
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya:
‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’”
Apa makna "jagalah Allah" dalam hadist diatas ?
(1) Menjaga batas-batas yang telah Allah tetapkan, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang haram, juga meninggalkan yang syubhat agar tidak terjatuh kedalam yang haram.
Abdullah Al Qassimi salah satu ulama yang terjatuh dalam syubhat karena mengambil pendapat orang-orang yang berada diluar koridor syariat hingga pada akhirnya nauzubillah menjadi ateis.
Batasan yang mudah dan jelas diantaranya adalah menjaga dan memperhatikan sholat anak-anak kita.
Surah Al-Baqarah ayat 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat dan (peliharalah) shalat tengah, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.”
Hadis dari Jabir bin Abdillah r.a.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ»
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim no. 82)
Bagaimana anak-anak berdiri dalam sholat ? letakkan disamping kita, dan kondisikan agar tetap dalam posisinya, ketika akan berpindah maka cegah agar tetap pada posisinya.
(2) Menjaga anggota badan dari maksiat dan hal-hal yang melanggar syariat, biasakan anak untuk berdzikir dan tidak mengeluh. Badan yang dijaga demikian akan mendapatkan kekuatan jiwa dan fisik, sebagaimana sahabat Rasulullah dan orang-orang terdahulu. Dosa dan maksiat menyebabkan fisik menjadi lemah, contohnya khamr & narkoba dll. Maka jaga fisik anak-anak kita katakan dan larang yang haram, katakan rokok haram dan cegah mereka darinya.
Hadis Qudsi (Sahih Bukhari no. 6502)
النَّصُّ العَرَبِيّ
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ قَالَ:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ،
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،
وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ،
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا،
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ،
وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ،
وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ،
يَكْرَهُ الْمَوْتَ، وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ.»
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.
Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
penglihatannya yang dengannya ia melihat,
tangannya yang dengannya ia berbuat,
dan kakinya yang dengannya ia berjalan.
Jika ia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri;
dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi.
Dan Aku tidak ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku dalam mengambil nyawa seorang mukmin; ia membenci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya.”
Makna "jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu." adalah dengan menjaga agama Allah kita akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah.
Makna "Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah; jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.", bersandar dan meminta hanya kepada Allah dalam perkara apapun bahkan dalam perkara yang sepele, sesuai hadist :
قال رسول الله ﷺ:
«لِيَسْأَلْ أَحَدُكُم رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا، حَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ»
رواه الترمذي (رقم 4/289) وحسّنه الألباني.
“Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta kepada Tuhannya segala kebutuhannya, bahkan hingga tali sandalnya jika terputus.”
Bahkan mintalah pertolongan Allah dalam berhenti dari perkara dosa dan maksiat.
جاء شابٌّ إلى النبي ﷺ فقال:
يا رسولَ اللهِ، ائْذَنْ لي بالزِّنا.
فأقبل القومُ عليه فزجروه، قالوا: مهْ مهْ.
فقال له النبي ﷺ:
«أُدْنُهُ».
فدنا منه قريبًا، فقال:
«أتحبُّه لأمِّك؟»
قال: لا والله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأمهاتهم».
قال: «أفتُحِبُّه لابنتك؟»
قال: لا والله يا رسولَ الله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لبناتهم».
قال: «أفتُحِبُّه لأختك؟»
قال: لا والله جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأخواتهم».
قال: «أفتُحِبُّه لعمَّتِك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لعمَّاتِهم».
قال: «أفتُحِبُّه لخالتك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لخالاتهم».
ثم وضع رسول الله ﷺ يده عليه وقال:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ».
قال: فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيءٍ.
رواه الإمام أحمد (رقم 22211) وحسّنه الألباني.
Seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.”
Para sahabat marah dan menghardiknya. Namun Nabi ﷺ berkata, “Dekatlah kemari.”
Pemuda itu mendekat. Lalu Nabi ﷺ bertanya:
“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Demikian pula manusia tidak suka itu dilakukan kepada ibu mereka.”
“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada anak perempuanmu?”
“Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Manusia juga tidak suka untuk anak-anak perempuan mereka.”
Nabi ﷺ mengulang tanya yang sama tentang saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — pada semuanya pemuda itu menjawab: “Tidak.”
Lalu Nabi ﷺ meletakkan tangannya pada pemuda itu dan berdoa:
“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Setelah itu, pemuda tersebut tidak lagi tertarik kepada zina.
( HR Imam Ahmad 22211 )
Makna "Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.", meyakini segala sesuatu terjadi dengan ijin dan takdir dari Allah, maka mintalah hanya kepada Allah dan inilah pentingnya untuk memperkuat Tauhid dalam keluarga.
Barakallahu fiikum.
Jazakumullahu khair.
Sunday, October 12, 2025
Antara akal dan syariat
﷽
Ustadz Maududi Abdullah hafizahullohuta'ala
🗓️ Ahad, 21 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 12 Oktober 2025
🕘 Ba'da Maghrib - Selesai
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
📡 Live Streaming
https://www.youtube.com/watch?v=fR8qx8hn54w
ANTARA AKAL DAN SYARIAT
Mengapa perintah agama terkadang terasa tidak masuk akal bagi sebagian orang? Di mana batasan logikamu dalam menerima kebenaran mutlak? Tabligh Akbar kali ini akan mengupas Akal dan Syariat dalam bingkai keimanan. Pahami peran akal yang sesungguhnya agar ia menjadi kendaraan menuju ketaatan, bukan jurang keraguan.
Surah Al-Qashash ayat 77
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Allah memberikan semua karunia pada kita berupa fasilitas dunia yang kita gunakan untuk beribadah untuk kepentingan akhirat, apapun jenis ibadah yang dilakukan tanpa didasari dengan tauhid maka amal ibadah itu tidak akan bernilai ibadah.
Surah Az-Zumar ayat 65
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.
Banyak saat ini orang yang mengagung-agungkan akal dan logikanya melebihi syariat, syariat Allah turunkan tidak bertabrakan dengan akal dan bertujuan untuk mengarahkan akal kejalan yang benar.
Mengapa akal dan logika tidak layak didahulukan dari syariat :
1. Logika tidak layak dijadikan syariat, syariat itu sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah.
2. Logika adalah ilmu manusia, sehingga memiliki keterbatasan dikarenakan akal manusia yang terbatas.
Surah An-Najm (53) ayat 3–4
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Akal manusia dapat dipengaruhi faktor yang diluar akal itu sendiri, banyak hal yang ada disekitarnya seperti lingkungan, kemajuan zaman, pendidikan, doktrin orangtua, dll.
3. Bahasan syariat banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib. Sebagai contoh pembahasan adzab kubur dan nikmat kubur.
4. Akal sangat mungkin terpengaruhi oleh gangguan dan godaan syaitan.
5. Allah tidak pernah dan tidak mungkin salah, berbeda dengan akal yang memiliki keterbatasan dan mungkin salah.
Sikap orang beriman bila datang syariat dari Allah dan Rasulullah adalah beriman sami'na wa atho'na terhadap syariat Allah, Surah Al-Baqarah 285 :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ...
Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
Dalam Al Qur'an banyak ayat yang mengajak akal untuk berfikir pada Surah At-Thur (52): Ayat 35
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) ?
Surah Al-Mu’minun (23): Ayat 115
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?
Surah An-Nisa (4): Ayat 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Jazakumullahu khayr
Barakallahu fiikum.
Saturday, October 4, 2025
MENDIDIK ORANG TUA DI ZAMAN GADGET
﷽
Di era serba digital ini, tantangan mendidik anak semakin besar. Bagaimana caranya kita sebagai orang tua bisa menjadi nahkoda terbaik di tengah arus deras gadget dan media sosial?
🎙️ Ustadz Muflih Safitra, M.Sc حفظه الله
🗓️ Sabtu Pagi, 12 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 4 Oktober 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
📡 Live Streaming
https://youtube.com/live/heXY8kP4dlg
Kita hidup dizaman digital :
1. Manusia tidak lepas dari gadget.
2. Anak kecilpun tidak lepas gadget
3. Internet masuk kesemua hal.
Bahaya penggunaan Gadget :
1. Stimulasi negatif pada pertumbuhan otak.
Usia 0 - 2 tahun masa pertumbuhan otak paling cepat, dan berkembang hingga 21 tahun. stimulasi gadget mengakibatkan defisit perhatian.
2. Hambatan perkembangan.
Saat menggunakan gadget kecenderungan anak kurang bergerak sehingga berdampak pada perkembangan.
3. Obesitas.
Penggunaan gadget berlebihan meningkatkan resiko obesitas sebanyak 30 % dan dapat meningkatkan resiko stroke dan menurunkan harapan hidup.
4. Gangguan tidur.
Orangtua tidak mengawasi anaknya menggunakan gadget, sebuah studi menemukan 75% anak usia 9-10 tahun menggunakan gadget di kamar tidur, berdampak pada penurunan prestasi belajar.
5. Penyakit mental.
Penggunaan gadget berlebihan menjadi faktor penyebab meningkatnya laju depresi, defisit perhatian, autisme, gangguan bipolar dan gangguan perilaku.
6. Agresif.
Anak yang terpapar tayangan kekerasan digadget beresiko menjadi agresif, disebabkan tayangan pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan kekerasan lainnya.
7. Pikun digital.
Konten media kecepatan tinggi berpengaruh dalam meningkatkan resiko defisit perhatian, sekaligus penurunan daya konsentrasi dan ingatan. Pasalnya bagian otak yang berperan dalam melakukan hal itu cenderung menyusut.
8. Adiksi.
Kurang perhatian orangtua anak lebih cenderung dekat dengan gadget mereka, hal ini memicu adiksi mereka seakan-akan tidak dapat hidup tanpa gadget mereka.
9. Radiasi.
WHO mengkategorikan ponsel dalam resiko 2B karena radiasi yang dikeluarkan.
10. Tidak berkelanjutan.
Pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan, dengan demikian pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan.
11. Kerusakan ahlak.
12. Ketagihan onani.
13. Terjerumus pada freesex dan perilaku seks menyimpang.
14. Kerusakan otak.
15. Prestasi akademik menurun.
Kerusakan otak karena pornografi.
Pornografi dapat menyebabkan kecanduan yang dapat merusak otak. Bagian otak yang dirusak adalah Prefrontal Cortex : Mengendalikan hawa nafsu dan mengambil keputusan.
Bisnis pornografi bertujuan :
1. Uang.
2. Kecanduan.
3. Otak rusak.
4. Pengakses jadi pelanggan.
Cara pornografi masuk :
1. Mudah diakses.
2. Mudah didapatkan.
3. Aggressive.
4. Tidak perlu identitas.
Target pornografi :
1. Anak laki-laki : Kemaluan diluar, Otak kiri gampang fokus, Hormon sex testosterone.
2. Anak belum baligh : Otaknya belum bersambung, Sekali melihat langsung candu.
3. Anak 3S : Smart, sensitive, spiritual hampa.
4. Anak BLAST : Boring(bosan), Lonely(sendirian), Angry(marah), Sad(sedih), Tired(lelah).
Media pornografi :
1. Gadget.
2. Media Sosial.(WhatsApp, Telegram, Line}
3. Video klip.
4. Games.
5. Film.
6. Komik.
7. Novel.
Pola pornografi merusak anak :
1. Tidak sengaja melihat (takut, cemas,jijik).
2. Prefrontal Cortex belum matang, maka masuk ke pusat perasaan.
3. Keluar cairan Dopamin menjadi fokus.
4. Otak meminta lagi hingga hilang rasa jijik, cemas,takut.
5. Desentralisasi (tidak ingin melihat yang sama).
6. Kecanduan.
7. Melakukan (M,O,S beda jenis, LGBT).
Ciri kecanduan :
1. Kurung diri, habiskan waktu dengan gadget dan internet.
2. Ditegur soal gadget marah.
3. Berbicara menghindari kontak mata.
4. Mulai impulsif.
5. Berbohong.
6. Berbuat jorok.(sexual)
7. Sulit konsentrasi.
8. Menyalahkan orang lain.
9. Hilang empati.
Solusi :
1. Aturan dan batasan yang jelas tentang gadget.
2. Alihkan dengan aktivitas lain bersama anak.
Asosiasi dokter anak US dan Canada membuat aturan penggunaan gadget pada anak :
- 0-2 tahun, sama sekali tidak ada gadget.
- 3-5 tahun, 1 jam sehari.
- 6-18 tahun, 2 jam perhari.
Solusi kecanduan pada anak :
1. Orangtua sadar.
2. Orangtua belajar agama.
3. Perbaiki kualitas ibadah.
4. Perbaiki pola komunikasi.
5. Suami istri saling mengisi rohani.
6. Ayah duduk berceramah dihadapan anak.
7. Ajarkan pendidikan seksual sejak dini.
8. Hindari contoh tidak baik, selfie.
9. Tunjukkan kasih sayang.
10. Awasi kontrol pertemanan.
11. Jauhkan dari permainan yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.
12. Maksimalkan waktu untuk anak, khususnya ayah yang bekerja.
13. Ibu sebaiknya tidak bekerja, kecuali sangat butuh dan penting.
Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.
Sunday, September 28, 2025
TIGA PILAR UTAMA PENDIDIKAN ANAK
﷽
🎙️ Ustadz Abu Qotadah حفظه الله
🗓️ Ahad Pagi, 6 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 28 September 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
https://www.youtube.com/watch?v=bky8iodc0Fc
Mendidik anak tentu harus memiliki ilmu, terlebih di zaman saat inibyang begitu luar biasa tantangannya, maka perlulah kita duduk sejenak mengevaluasi dan mencatat bekal tambahan untuk mendidik anak-anak kita.
Pada intinya tujuan pendidikan anak adalah mendidik anak kita agar berakidah lurus, diantara penyebab kegagalan pendidikan pada umumnya di Indonesia :
1. Infrastruktur organisasi, artinya organisasi baik pemerintah maupun swasta yang kurang baik, SDM yang kurang kompeten dan konflik didalamnya.
2. Infrastruktur politik, kebijakan yang kurang mendukung pendidikan, tidak memahami fungsi dan tujuan pendidikan.
3. Infrastruktur sosial, terkait dengan cara pandang dalam melihat (menilai) pendidikan, yang berakibat proses pendidikan terhambat baik dari sisi intelektual, sisi moral, dan sisi skill (keahlian).
Masih dianggap oleh 30% rakyat Indonesia, bahwa pendidikan adalah kewajiban, bukan sebagai dorongan pribadi, sebagian yang lain dorongan yang kedua, bahwa pendidikan hanya untuk nilai dan sekedar ijazah atau gelar, dorongan yang yang ketiga, bahwa pendidikan itu untuk dapat bekerja.
Yang akan dibahas pada kajian ini adalah pada point ketiga yaitu Infrastruktur Sosial, pola pikir yang keliru adalah bahwa pendidikan adalah dengan menyekolahkan anak, pendidikan adalah proses perjalanan hidup bukan sekedar proses sekolah, anak memiliki 4 dimensi kehidupan :
1. Kehidupan anak dalam lingkungan keluarga.
2. Kehidupan anak dalam lingkungan sekolah.
3. Kehidupan anak dalam lingkungan masyarakat.
4. Kehidupan anak dalam lingkungan digital atau media.
Ketika pendidikan ada dalam dimensi keluarga, maka seyogyanya orangtua memahami bagaimana mendidik anak. Dari proses pendidikan ini akan sangat mempengaruhi anak, 3 pilar yang mempengaruhi pendidikan anak :
1. Tingkat kesadaran orangtua.
2. Kompetensi dan pengetahuan orangtua dalam mendidik anak.
3. Nilai kepribadian orangtua.
1) Keturunan yang baik dan shaleh/shalehah adalah sebuah harapan.
Harapan orangtua agar anak menjadi bertakwa, berakhlak mulia dan berwawasan luas adalah sebuah proyek, misi spiritual dan impian luhur yang tertanam dalam hati orangtua yang berakar pada nilai-nilai tauhid, pendidikan ahlak, akidah dan ilmu :
a) Doa sebagai senjata utama.
b) Ibadah berjamaah dan dzikir.
c) Wawasan luas berbasis nilai.
Pertama : Jadikan rumah sebagai tempat belajar yang menyenangkan., libatkan anak dalam proses pendidikan, libatkan dalam mengambil keputusan.
Pengorbanan yang diperlukan :
a) Waktu dan perhatian.
b) Kesabaran dan konsistensi.
c) Investasi ilmu dan diri.
Surat Ibrahim ayat 40 :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, demikian juga anak cucuku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Surat Ali ‘Imran ayat 38 :
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Artinya:
“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya. Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa’.”
Surat As-Saffat ayat 100–102 :
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ibrahim) berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Mendidik anak tanpa interaksi :
1. Berdoa meminta kepada Allah anak-anak shaleh/shalehah.
2. Menjadikan diri kita orang yang shaleh/shalehah.
Penjelasan 3 pilar utama pendidikan anak :
1) Tingkat kesadaran orangtua.
Yang dimaksud adalah pemahaman mendalam tentang pentingnya peran pendidik utama anak. Menyadari bahwa proses pendidikan dimulai dari rumah, 5 kesadaran Orangtua :
a) Anak sebagai nikmat dan amanah. Dalilnya surat Al-Kahfi ayat 46 :
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَاقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا ٤٦
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
anak-anak juga dapat menjadi fitnah bagi orangtuanya, dalilnya Surat At Taghabun 15 :
إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥
“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah sebagai cobaan (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
b) Mendidik anak adalah kewajiban syar'i, dalilnya surat At Tahrim 6 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
c) Fitrah manusia, memahami fitrah manusia yang wajib dijaga dan dikembangkan, dalilnya :
Surah Ar-Rūm ayat 30 :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dalam hadist :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tidak ada seorang pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Fitrah : Kondisi suci dan lurus yang diberikan Allah saat manusia dilahirkan, 8 dimensi fitrah :
1. Fitrah keimanan (islam, tauhid & kebaikan).
2. Fitrah bakat.
3. Fitrah belajar & bernalar.
4. Fitrah sosialisasi & individualistis.
5. Fitrah jasmani.
6. Fitrah seksualitas & generatif.
7. Fitrah estetika & bahasa.
8. Fitrah perkembangan.
Apa peran pendidikan dalam menjaga fitrah :
1. Menjaga kemurnian fitrahnya.
2. Mengembangkan fitrahnya.
d) Sadar akan keunikan individual.
Sadari bahwa setiap anak memiliki keunikan individu, dan jangan pernah membanding-bandingkan anak.
Surat Ar-Rum ayat 22 :
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
e) Pemenuhan kebutuhan holistik (asuh, asih & asah), pendidikan harus meliputi seluruh aspek :
Asuh : Kebutuhan fisiknya, seperti makanan yang halal, kesehatan fisiknya dan perlindungan.
Asih : Kebutuhan emosionalnya, seperti pemberian kasih sayang, perhatian dan rasa aman.
Asah : Kebutuhan intelektualnya, seperti stimulasi belajar dan pengembangan kemampuannya.
2) Kompetensi dan pengetahuan orangtua dalam mendidik anak.
Keahlian dan keterampilan praktis dalam mendidik dan membimbing anak. Kemampuan ini meliputi kemampuan komunikasi dan pemahaman mendalam tentang pendidikan, apa saja kompetensi yang harus dimiliki orangtua :
1. Kompetensi pengetahuan keislaman.
2. Kompetensi pedagogik (ilmu dan seni mendidik).
a. Memahami tahap perkembangan anak.
b. Prinsip tarbiyah bilhikmah.
c. Desain lingkungan belajar kondusif.
d. Pendekatan berbasis fitrah.
e. Membiasakan pembelajaran aktif dan reflektif.
f. Membentuk karakter dan kebiasaan baik.
3. Kompetensi komunikasi efektif dan bermakna.
4. Kompetensi berdiskusi dan berpikir kritis.
5. Kompetensi kepemimpinan dan keteladanan.
6. Kompetensi adaptasi teknologi dan zaman.
3) Nilai kepribadian orangtua.
Karakter, ahlak, dan kepribadian orang tua sebagai teladan hidup. Karena anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Barakallahu fiikum
Jazakumullahu khair.
Sunday, August 10, 2025
Bangun Keluarga dari Nol
﷽
📌 Bangun Keluarga dari Nol
👤 Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc — hafizhahullah
“Keluarga kokoh tak lahir dari kebetulan… mari kita bangun dari nol, dengan bimbingan ilmu dan iman.”
🗓 Ahad Pagi
16 Safar 1447H / 10 Agustus 2025
⏰ 09.00 WIB – selesai
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung
https://www.youtube.com/live/RQBhKAXvvOE?si=PdZ8zJ7TZMEt6Ype
Ada 4 poin yang menjadi landasan kajian :
1. Kita semua harus sadar tujuan penciptaan kita (untuk beribadah).
Menikah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat 56).
2. Kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki adalah masuk surga.
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(Ali ‘Imran ayat 185).
Kalimat 'mata' pada ayat diatas bermakna 'terbatas' sehingga semua kenikmatan yang ada hanyalah sementara.
3. Kita harus meyakini bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat.
Perkataan Ali bin Abu Thalib:
إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ رَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الآخِرَةَ قَدْ أَقْبَلَتْ مُشْمِرَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.
"Sesungguhnya dunia telah pergi menjauh, dan akhirat telah datang mendekat, dan masing-masing dari keduanya memiliki pengikut. Maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah (waktu untuk) beramal tanpa hisab, sedangkan besok adalah hisab tanpa amal."
Hadist Rasulullah :
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
"Apa urusanku dengan dunia ini? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu ia pergi dan meninggalkannya."
(Imam Ahmad - Musnad Ahmad 2748)
4. Berlomba-lomba mengejar akhirat.
Menikah adalah ibadah dan menikah adalah bagian ibadah, dan ibadah yang panjang waktunya dan merupakan anjuran :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(رواه البخاري رقم 5066، ومسلم رقم 1400)
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu (menanggung pernikahan), maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya."
Salah satu jalan yang dapat menjadi pendukung masuk surga adalah menikah,
Harta yang baik disimpan dirumah :
1. Lisan yang selalu berdzikir.
2. Hati yang pandai bersyukur.
3. Istri yang membantu suaminya untuk selalu taat pada Allah.
خَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
(رواه مسلم رقم 1467)
"Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah."
Apakah tujuan menikah :
1. Nikah adalah fitrah manusia, untuk memenuhi kebutuhan asasi manusia.
2. Membentengi ahlak, budi pekerti dan menundukkan pandangan.
3. Membangun dan menegakkan rumah tangga yang islami (sesuai syariat).
4. Meningkatkan ibadah kepada Allah.
قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ، وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ. وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendatangi istrinya untuk menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Bagaimana menurut kalian jika ia meletakkannya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula jika ia meletakkannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala. Dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.”
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.”
(HR. Muslim)
5. Memperoleh keturunan yang Sholeh.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.” (As-Saffat: 100)
النَّصُّ العَرَبِيّ :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
"إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ"
(رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Kriteria pasangan Wanita untuk dinikahi :
النص العربي :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ :
«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »
(رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kriteria pasangan Pria untuk dinikahi :
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ…
“Jika datang kepadamu orang yang kamu ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia... Jika tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.”
(HR. Tirmidhi 1084)
Langkah - langkah memilih pasangan Wanita shalihah :
1. Lihat dari cara berpakaian, tidak terlihat lekuk tubuhnya.
2. Baik akhlaknya, lihat kehidupan sosialnya.
3. Menjaga lisan.
4. Tidak bermudah-mudahan dengan laki-laki bukan mahram.
5. Berbakti kepada orang tua.
6. Berbuat baik dengan tetangganya.
7. Cari yang bapaknya mengendalikan rumah tangga.
8. Utus Ibu untuk melihat calon menantunya.
Mencari pasangan menurut ulama :
1. Cari yang baik agamanya.
2. Sekufu / sebanding dalam hal kedudukan, agama, dan nasab. Adapun secara syariat menurut Imam Syafii sebanding dalam ¹agama, ²nasab, ³kemerdekaan, ⁴pekerjaan, ⁵terlepas dari aib & ⁶kekayaan, sehingga setara dalam keagamaan dan status sosial.
3. Mencari yang enak dipandang, tujuan dari syariat nadzhor (melihat calon pasangan) dan ta'aruf.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ:
إِذَا أَحَدُكُمْ أَعْجَبَتْهُ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ فِي قَلْبِهِ فَلْيَعْمِلْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ
Jika salah seorang dari kalian dibuat terpesona oleh seorang wanita sehingga menimbulkan keinginan di hatinya, maka hendaklah ia mendatangi (hubungan suami-istri dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada dalam dirinya.(H.R. Muslim)
Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.
Wednesday, July 30, 2025
Pokok - Pokok Akidah (Bagian 3)
﷽
Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala
Masjid Al-Aziz Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung
Kitab Ushul Sunnah - Imam Ahmad bin Hambal.
https://www.youtube.com/live/g4ZsalsuEks?si=aceHZW-nfPYDzbYl
Faidah-faidah dari mempelajari kitab-kitab aqidah ahlu sunnah para salaf :
1. Mengokohkan kita diatas pondasi yang kuat dengan Al Qur'an dan Sunnah.
2. Membentengi diri dari syubhat ahlul bid'ah.
3. Memahami aqidah dengan mudah (kitab aqidah ditulis para ulama dengan bahasa yang mudah dipahami).
4. Menguatkan hubungan antara kita dengan ulama-ulama salaf (penulis kitab).
5. Membentengi para pemuda dengan aqidah yang benar dan kokoh.
Menjauhi mendebat para pengikut hawa nafsu dan duduk bersama mereka, serta meninggalkan berdebat dalam agama.
1) Larangan duduk dengan pengikut hawa nafsu (ahlul bid'ah).
Agama ini bukan berdasarkan hawa nafsu, perasaan ataupun akal, agama ini berdasarkan wahyu dari Al Qur'an dan Hadist.
Sifat dasar manusia adalah lemah ;
QS. An-Nisa 28 :
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah.
QS. Al Kahfi 28 :
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَاةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًۭا
Bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya melewati batas.
Hadist :
مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api (pandai besi). Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu (minyak itu), atau kamu membeli darinya, atau kamu mencium bau harum darinya. Sedangkan peniup api bisa jadi membakar pakaianmu, atau kamu mencium darinya bau yang busuk. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil mengapa ulama melarang duduk dengan ahlul bid'ah :
QS. Al-An'am 68 :
وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan engkau lupa, maka janganlah engkau tetap duduk bersama orang-orang zalim itu setelah teringat.
Menurut sahabat Ibnu Abbas : Masuk didalam ayat ini adalah ahlul bid'ah.
Menurut Imam Al Syauqani : Terdapat pelajaran dalam ayat tersebut, apabila tidak dapat mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan maka setidaknya jangan ikut duduk, agar tidak dijadikan alasan pembenaran oleh orang awam terhadap kebid'ahan mereka. Karena lebih besar mudharatnya dibanding duduk dengan ahli maksiat.
HR. al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad :
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ
Larilah dari orang yang mengidap lepra sebagaimana engkau lari dari singa.
Sedangkan bid'ah lebih berbahaya daripada penyakit dunia.
Hadist riwayat Abu Dawud no. 4319 :
مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ
Barang siapa yang mendengar tentang (kemunculan) Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sungguh seseorang mendatanginya dalam keadaan merasa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena terpengaruh oleh syubhat (keraguan dan tipu daya) yang dibawanya.
Dajjal memiliki 2 makna :
1) Dajjal akbar, yang keluar pada akhir zaman.
2) Dajjal dengan makna para pendusta (para ahlul bid'ah termasuk didalam kategori ini).
Hadist riwayat Ahmad no. 1473, Darimi :
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَرَأَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَضِبَ وَقَالَ:
«أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيَضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ، فَيُخَبِّرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ...»
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Umar datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa sebuah tulisan dari ahli kitab (Taurat), lalu ia membacanya kepada Nabi ﷺ. Maka Nabi pun marah seraya bersabda:
'Apakah engkau ragu dan bingung, wahai Ibnul Khattab? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa ajaran yang putih bersih. Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang apa pun, karena bisa jadi mereka mengabarkan kebenaran lalu kalian mendustakannya, atau mereka mengabarkan kebatilan lalu kalian membenarkannya…'"
Dalil dari ijma ulama ahlu sunnah :
- Nukilan Hasan. Al Basri : Jangan duduk dengan ahlul bid'ah, jangan mendebat mereka dan jangan mendengarkan mereka.
- Sikap Imam Ibnu Sirrin : Ketika ahlul bid'ah hendak membacakan satu hadist dari ahlul bid'ah, beliau tidak mau mendengarkan.
Mengapa para ulama melarang hal ini ?
"Karena hati itu lemah dan syubhat kencang menerpa".
Apa bahaya dari semua itu (duduk dengan ahlul bid'ah) ?
1. Dikhawatirkan terkena syubhat dan tak sanggup untuk membantah.
2. Menentang larangan Al Qur'an dan hadist.
3. Menjadikan kita mencintai mereka, padahal agama teman mempengaruhi seseorang.
المرءُ على دينِ خليلِه، فلينظرْ أحدُكم من يُخالِلْ
Seseorang itu berada di atas agama (gaya hidup) temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad. Dihasankan oleh al-Albani)
4. Menguatkan mereka dalam kebid'ahan.
5. Menjadi fitnah bagi orang-orang awam.
Syubhat adalah sallah satu penyakit hati yang berbahaya dan sumber kerusakan agama. Penyakit hati ada 2 :
1. Syubhat, kerancuan dalam agama yang menyerupai kebenaran.
2. Syahwat.
طُوبَى لِمَن كُفِيَ الفِتَنَ، ولِمَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ
Beruntunglah orang yang dijauhkan dari fitnah, dan beruntung pula orang yang diuji lalu bersabar.
(HR. Abu Dawud dan al-Hakim, disahihkan oleh al-Albani)
Bagaimana seorang muslim menyikapi syubhat :
1) Langkah sebelum terkena syubhat, adalah dengan menjauhinya, sebagaimana sikap ulama-ulama terdahulu.
2) Langkah bila terpapar syubhat adalah dengan melakukan hal berikut :
a) Hendaknya tegar.
b) Bergantung pada Allah dan banyak berdoa.
اللّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya. Dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzi)
c) Tidak larut menyimpannya, bersegera melepaskan diri.
d) Bersegera pergi mengobatinya, ke ulama Rabbani yang menguasai Al Qur'an dan As Sunnah.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(QS. An-Nahl: 43 dan QS. Al-Anbiya: 7)
e) Pegang erat-erat kaidah pokok-pokok agama.
2) Larangan berdebat dengan ahlul bid'ah.
Debat atau jiddal terbagi 2 :
1. Debat yang tercela, yaitu jika debat untuk membantah kebenaran, memenangkan kebathilan, tanpa ilmu, tidak jujur atau dengan cara-cara yang kotor.
Dalilnya :
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ
Tidak ada yang memperdebatkan ayat-ayat Allah selain orang-orang yang kafir. Maka janganlah engkau terperdaya oleh perjalanan mereka di negeri-negeri.
(QS. Ghafir: 4)
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ
Tidaklah suatu kaum sesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dinyatakan hasan oleh al-Albani)
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia berada di pihak yang benar.
(HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
2. Debat yang diperbolehkan/ disyariatkan, jiddal bagi mereka yang memiliki ilmu yang kuat, dengan cara yang baik dan benar serta terdapat manfaat yang lebih besar dibandingkan mudharatnya, namun tetap dengan kaidah bahwa hukum asalnya adalah tetap menjauhi jiddal.
ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
(QS. An-Nahl: 125)
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya – dinyatakan hasan)
Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.
Sunday, July 27, 2025
Tabligh Akbar - Makna Sebuah Kesabaran.
﷽
Di balik tangis yang tertahan,
ada pahala yang disiapkan.
Di balik lelah yang tak terlihat,
ada ampunan yang Allah janjikan.
Kesabaran bukan sekadar diam,
tapi menerima ketetapan-Nya dengan hati yang ridha,
dan terus melangkah dengan harapan akan balasan yang agung di sisi-Nya.
🎙 Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A. — Hafizhahullah
https://www.youtube.com/live/tSgrrwvePVE?si=_pDgjofcS2z_Hh0D
Surah Ali 'Imran (3) ayat 106
Arab: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَـٰنِكُمْ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah (lain) menjadi hitam. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam (kepada mereka dikatakan), 'Mengapa kamu kafir setelah beriman?' Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Kelak diyaumil qiyamah Allah akan mengumpulkan manusia sesuai dengan golongannya, maka Ahlu sunnah juga Allah kumpulkan karena kesamaan aqidah dan manhaj.
Dzikrullah adalah bentuk mengingat Allah, diantara ciri ahlul Jannah
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًۭا وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur bersujud dan bertasbih memuji Tuhan mereka, sedang mereka tidak menyombongkan diri.
Sabar dalam makna bahasa : Menahan diri, dari semua perbuatan yang merugikan dirinya baik didunia maupun diakhirat, dan sabar itu pahit, seperti namanya yaitu buah Sobar, yang pahit rasanya namun bermanfaat / nikmat hasil akhirnya.
1. Sabar itu bertingkat-tingkat.
Manusia yang tingkat sabarnya paling tinggi adalah Ulus Azmi - dalilnya Al Ahqaf 35
فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا سَاعَةًۭ مِّن نَّهَارٍۢ ۚ بَلَـٰغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana para rasul yang mempunyai keteguhan hati telah bersabar (Rasul Ulul Azmi : Nuh, Ibrahim, Musa, Isa & Muhammad), dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan (kepada mereka), seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. Suatu penyampaian (yang sempurna). Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.
Namun bukankah Nabi yang dikenal sabar adalah Nabi Ayub ? Namun tidak masuk dalam Ulul Azmi. Sabarnya Nabi Ayub karena sabar menghadapi musibah, sedangkan sabarnya Ulul Azmi adalah sabar dalam berdakwah menyampaikan risalah. Sabar karena dakwah lebih tinggi statusnya dari sabar karena musibah, sehingga sabar karena dakwah menjadi sebab tidak akan tergolong dalam kelompok orang yang merugi. Dalilnya surah Al Asr :
1. وَالْعَصْرِ
2. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
3. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Puncak ahlak yang paling baik adalah Ahlak Rasulullah, sehingga beliau dimusuhi bukan karena ahlak maupun pribadinya namun dimusuhi karena dakwahnya.
Pada saat Rasulullah hijrah ke Madinah, Rasulullah menugaskan Ali untuk menggantikan posisinya menjaga barang titipan orang-orang kafir dirumah Rasulullah dan mengembalikan barang-barang titipan tersebut.
Al Walid bin Mughirah (Ayah sahabat Khalid bin Walid) adalah orang kafir berpengaruh diatas Abu Jahal, dia dianggap sebagai manusia paling bijak di Mekah, sehingga ketika terdengar kabar akan masuk Islam maka Abu Jahal mendatangi Walid bin Mughirah menanyakan kebenaran berita tersebut, namun ia menyangkalnya, dan dalam usaha mereka untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah dengan cara mencari siapapun orang yang pernah mengetahui Rasulullah berdusta, namun tidak menemukan. Orang Musyrik Quraisy masa itu sangat menghargai kejujuran.
2. Sabar itu dapat dipelajari.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ...
Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, dan sesungguhnya kelembutan (sifat sabar) itu didapat dengan melatih diri untuk bersikap lemah lembut...
(Hadis ini diriwayatkan oleh al-Khaṭīb al-Baghdādī dalam kitab al-Faqīh wal-Mutafaqqih)
Sehingga majelis ilmu, adalah salah satu wasilah untuk mempelajari kesabaran.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ"
Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, para malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk-Nya) yang berada di sisi-Nya.(HR. Muslim, no. 2699)
3. Sabar itu tugas tanpa batas.
Sabar itu tidak ada ujungnya sehingga Allah jadikan pahala sabar tanpa batas.
Surah Az-Zumar (39) Ayat 10
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.
Terkait ibadah puasa yang pahalanya tanpa batas, karena puasa menahan diri dari hal yang dihalalkan dan masuk kedalam kesabaran, dalam hadist Qudsi :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ..."
"Rasulullah ﷺ bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya...." (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151)
4. Allah banyak memberikan pujian dan balasan yang indah bagi orang yang sabar.
Setidaknya ada salah satu janji Allah bagi orang yang sabar, dalam banyaknya ayat Al Qur'an yang menyatakan Allah mencintai orang yang bersabar.
Surah Ali 'Imran (3) Ayat 146
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran: 146, potongan akhir ayat)
Siapa orang yang paling Allah cintai adalah Khalilullah, Rasulullah dan Nabi Ibrahim adalah Khalilullah.
عَنْ جُندَبٍ رضي الله عنه، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا"
"Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari menjadikan seorang pun di antara kalian sebagai kekasih (khalīl). Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalīl (kekasih), sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalīl."
(HR. Muslim, no. 532)
5. Yang membuat orang bisa sabar adalah yakin.
Sehingga ketika seorang mukmin meyakini janji Allah, setiap musibah apapun akan terasa ringan, sehingga mereka dapat bersabar walaupun hingga titik yang mengancam nyawa. Dalil pada Al Qur'an :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah: 24)
Sehingga mempelajari Fadhilah Amal akan dapat memperkuat kesabaran. Manfaat belajar Aqidah dan Tauhid akan memperkuat keyakinan seseorang dalam menjawab tantangan hidup.
Pendidikan yang pertama bagi kaum muslimin di Mekah selama 13 tahun adalah penekanan pada masalah aqidah, pada masa itu diturunkan surat Al Mufassol (Surah Qaf hingga - An Nas) yang banyak membahas masalah aqidah.
6. Sabar adalah Solusi ketika mendapat masalah.
Sabar adalah solusi yang Allah sebutkan dalam Al Qur'an. Surat Al-Baqarah ayat 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Rasulullah menganjurkan mengucapkan Qaddarallāh, wa mā syā’a fa‘al ketika menghadapi musibah agar musibah dunia tidak menjadi musibah dalam agama :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
"الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَذَا، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ."
"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāh, wa mā syā’a fa‘al’ (Allah telah menakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan), karena perkataan ‘seandainya’ itu membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)
Menyikapi musibah :
1. Bersyukur terhadap nikmat yang masih tersisa, setidaknya bukan musibah dalam masalah agama.
2. Tidak berprasangka buruk pada Allah.
Barakallahu fiikum
Wa Jazakumullahu khair.
Menghadapi Krisis Dengan Panduan Syariat
﷽ 📗 Menghadapi Krisis Dengan Panduan Syariat 👤 Ustadz Doktor Firanda Andirja حفظه الله 📅 18 Juli 2026, 09.00 WIB. Tabiat dalam kehidupan...
-
﷽ On Palo Alto Networks firewalls, a 100% full /opt/pancfg partition is a known critical issue and can break commits, upgrades, and logging....
-
﷽ Hereby below is SAP GUI download link for those who might need it. SAP GUI 7.50 Microsoft Windows OS, File size : 856 MB [ Download ] Ma...