Saturday, December 27, 2025

Sebab-sebab Hati Berpenyakit

 ﷽

📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala 

🗓️ Sabtu Pagi, 6 Rajab 1447 H
🗓️ 27 Desember 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung


Sebab-sebab yang menjadikan hati berpenyakit, hati manusia bisa sehat dan bisa sakit sebagaimana hati itu juga bisa hidup dan bisa mati, penyakit hati akan memisahkan seseorang dari Allah dan negeri akhirat sehingga jauh lebih berbahaya dari kematian, maka menjaga kesehatan hati jauh lebih penting dari menjaga kesehatan jasmani, walaupun menjaga kesehatan jasmani juga penting untuk dapat beribadah dengan baik.

Penyakit hati ini dapat menular sebagaimana penyakit dapat menular dengan ijin Allah, sebab-sebab:

1) Kesyirikan kepada Allah.
Siapapun yang melakukan kesyirikan kepada Allah maka hatinya tidak akan pernah bersih. bahkan Allah sifati pelakukanya lebih rendah dari binatang ternak.
QS. Al-Furqan (25): 44

 أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.
Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hak-hak kekhususan Allah, ada 3 Hak kekhususan Allah :
1. Dalam perbuatan Allah (Rububiyah), contohnya : menciptakan, mematikan, memberikan rizki.
2. Dalam perbuatan mahluk ketika menyembah dan beribadah kepada Allah (Uluhiyah), contohnya : menyembelih, tawakal, istighosah, istianah.
3. Dalam nama-nama dan sifat Allah yang maha sempurna, contohnya : Allah maha pengasih (Ar Rahman), Allah maha penyayang (Ar Rahim).

2) Perbuatan maksiat dan dosa.
Perbuatan maksiat dan dosa akan menimbulkan penyakit hati, baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar. QS. Al-‘Ankabut (29): 40

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (kaum) Kami siksa karena dosanya; di antara mereka ada yang Kami kirimkan hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
Para ulama mengatakan bahwa pelaku dosa sejatinya sedang mendzolimi dirinya sendiri, maka hendaknya berusaha untuk menghindari dosa-dosa tersebut. Sesungguhnya satu maksiat akan mengundang maksiat yang lain.

Hadist dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dan dinilai hasan oleh para ulama. (Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dengan lafaz yang mirip)

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ ذَلِكَ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بِبَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ إِذَا أُخِذَ بِهَا صَاحِبُهَا أَهْلَكَتْهُ

Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil yang diremehkan. Perumpamaannya seperti suatu kaum yang singgah di lembah; yang satu datang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga mereka dapat memanggang roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu, bila diambil (dipertanggungjawabkan) pada pelakunya, akan membinasakannya.

Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu 

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis (lebih ringan) daripada rambut, padahal pada masa Rasulullah ﷺ kami menganggapnya termasuk dosa-dosa yang membinasakan. (HR Bukhari)

Fawaid ulama  : 

"Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat." 

3) Lalai dari berdzikir mengingat Allah.
Ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah

ذِكْرُ اللَّهِ دَوَاءٌ، وَذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ

Mengingat Allah adalah obat, sedangkan mengingat manusia adalah penyakit.

QS. Al-Anbiyā’ (21): 97

وَٱقْتَرَبَ ٱلْوَعْدُ ٱلْحَقُّ فَإِذَا هِىَ شَٰخِصَةٌ أَبْصَٰرُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ يَٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِى غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَٰلِمِينَ

Dan telah dekat janji yang benar. Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir (seraya berkata), “Celakalah kami, sungguh kami dahulu lalai tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit.

4) Berpaling dari ilmu agama Allah dan sunnah Rasulullah.
Banyak sekali manusia jaman ini lebih pintar ilmu dunia namun bodoh dalam urusan agama. 
QS. Thāhā (20): 124–126

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ ﴿١٢٤﴾
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا ﴿١٢٥﴾
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ ﴿١٢٦﴾

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”
Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya; dan demikian pula pada hari ini engkau dilupakan.”

5) Sibuk dengan urusan dunia sehingga mencintainya berlebihan.
Ketika seseorang telah tersibukkan dengan urusan dunia maka akan melupakan dirinya dari hal yang lebih penting dari urusan agamanya.
QS. Al-A‘rāf (7): 175–176

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيْنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ ٱلشَّيْطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾

Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu dia melepaskan diri darinya; maka setan mengikutinya, lalu jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya dia terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya dia tetap terengah-engah. Itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Pendapat para ulama ayat diatas terkait dengan Bal‘am bin Bā‘ūrā’ umatnya nabi Nabi Musa عليه السلام.

Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan lebih mendahulukan hawa nafsunya.
Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan melupakan tugas utamanya diciptakan didunia ini.
Maka pentingnya seseorang untuk mengaji ilmu syari'at.

وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Barakallahu fiikum 
Jazakumullahu khair.

Saturday, November 22, 2025

Celah-celah setan masuk kedalam hati (bagian 3)

 ﷽

📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala 

📱 https://www.youtube.com/live/PMmqJoWpE40?si=_Xzp5ErXnWRhUV9k


7) Suudzon / Prasangka buruk. 

Jauhi prasangka buruk, Nasihat ulama "seorang mukmin akan mencarikan udzur bagi saudaranya, adapun orang munafik akan mencari ketergelinciran saudaranya."

Surat Al-Hujurât Ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Terdapat 3 dosa dari ayat diatas yang harus dihindari :

1. Suudzon/ berprasangka buruk.
2. Tajasus / mencari-cari kesalahan.
3. Ghibah / menggunjing kesalahan.

Hadist :

اِیَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta ucapan.
Jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan iri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
— (HR. Bukhari dan Muslim)

حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ

“Berbaik sangka adalah bagian dari baiknya ibadah.”
— (HR. Tirmidzi – hasan)

Dan buruk sangka paling buruk adalah berburuk sangka pada Allah, karena syaitan akan berusaha memasukkan perasaan ini kedalam hati manusia ketika mengalami musibah ataupun tertimpa hal-hal yang tidak diharapkan.

Macam-macam prasangka buruk :
1. Suudzon yang haram. 
Kepada sesama mukmin tanpa bukti dan kepada Allah.
2. Suudzon yang diperbolehkan. 
Kepada manusia yang memang dikenal penuh keraguan dan sering melakukan maksiat dan dosa.
Kepada manusia yang disertai data bukti dan fakta.
3. Suudzon yang dianjurkan.
Suudzon kepada musuh dalam satu pertempuran.
Para penegak hukum.
4. Suudzon yang wajib.
Suudzon yang dibutuhkan dalam rangka kemaslahatan syariat.
contohnya dalam perkara ilmu jarh dan ta'dil dalam menilai perawi hadist.

8) Al Ajalah / Terburu-buru 

Pada Al-Anbiyā’ ayat 37

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Aku akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kuasa)-Ku, maka janganlah kalian meminta-Ku menyegerakannya.”

Pada Al-Isrā’ ayat 11.

وَيَدْعُ الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu memang bersifat tergesa-gesa.”

Contoh ketergesa-gesaan yang tercela :

1. Tergesa-gesa dalam berdoa.

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
— HR. Bukhari dan Muslim

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan.’”

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا»
قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ.
قَالَ: «اللَّهُ أَكْثَرُ»

(HR. Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Hakim – shahih)

“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan sebuah doa—yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahmi—melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal:

1. Doanya dipercepat bagi dirinya,
2. Doanya disimpan sebagai pahala di akhirat,
3. Allah menolak darinya keburukan yang semisal dengan doanya.”

Para sahabat berkata: ‘Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’
Nabi ﷺ bersabda: ‘Allah lebih banyak (memberi).’

2. Tergesa-gesa saat iqomah dikumandangkan.

Disunnahkan mendatangai dengan tenang tidak berlari dan segera mengikuti gerakan imam tidak menunggu imam berpindah kegerakan berikutnya.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:
«إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Apabila kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju salat dengan tenang dan penuh wibawa, dan janganlah kalian berlari. Apa yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah, dan apa yang terlewat dari kalian, maka sempurnakanlah.”
— HR. Bukhari dan Muslim

3. Tergesa-gesa menghabiskan makanan.

Contohnya serupa dengan saat menghabiskan makanan karena hendak sholat.

إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ، وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
— HR. Bukhari dan Muslim

“Apabila makanan malam telah dihidangkan sementara salat telah ditegakkan, maka mulailah (selesaikanlah) makan malam itu terlebih dahulu.”

4. Tergesa-gesa dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ يَسْمَعُهُ

“Ucapan Rasulullah ﷺ adalah ucapan yang jelas dan terperinci, dipahami oleh setiap yang mendengarnya.”

(HR. Abu Dawud)

Riwayat lain:

كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ

“Beliau berbicara dengan cara yang jika ada orang yang menghitung ucapannya, niscaya ia dapat menghitungnya.”
(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Ahmad)


5. Tergesa-gesa dalam menuntut ilmu.

QS. Al-Qiyāmah ayat 16–19 dalam Arab dan artinya:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

“Janganlah engkau (Muhammad) menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menghafalnya).”

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membuatmu dapat membacanya.”

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Maka apabila Kami telah selesai membacakannya (melalui Jibril), ikutilah bacaannya itu.”

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Kemudian sesungguhnya Kami pula yang akan menjelaskannya.”


6. Tergesa-gesa dalam memberikan fatwa dan menjawab pertanyaan.
7. Tergesa-gesa dalam berdakwah.
8. Tergesa-gesa dalam memvonis.

9) Waswas.

Penyakit yang umumnya mengenai Al Abid / ahli ibadah namun tidak berilmu dan dibisikkan oleh syaitan kedalam hati manusia terutama saat beribadah sholat, karena sejatinya syariat Islam adalah mudah.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:

«إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا»

“Apabila salah seorang dari kalian merasa ada sesuatu dalam perutnya dan ragu apakah keluar atau tidak, janganlah ia keluar (membatalkan salat), sampai ia mendengar suara atau mencium bau.”
— HR. Muslim

Apabila seseorang ditimpa waswas, saran ulama :

1. Tidak memperdulikannya.
2. Mengambil sikap kebalikan.
3. Berlatih dengan sabar
4. Bayak berlindung dari godaan syaitan.
5. Pelajari cara ibadah yang benar sesuai Sunnah Rasulullah.

10) Ta'assub / fanatik.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatik golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena fanatik golongan, dan bukan dari kami orang yang mati di atas fanatik golongan.”
— HR. Abu Dawud

Definisi Ta'assub menurut imam As Syaukani : engkau menjadikan semua pendapat dan ijtihad seseorang menjadi hujjah bagimu dan seluruh manusia. Sebaliknya dalil atau sumber adalah Al Qur'an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman para sahabat, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan, bahkan ulama pun dapat terjatuh pada kesalahan.

Pendapat Imam Syafi'i :

قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي»

“Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku.”

قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَدَعُوا مَا قُلْتُ»

“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ, maka ambillah sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah perkataanku.”

Pendapat Imam Ahmad :

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:

«لَا تُقَلِّدُونِي، وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا، وَلَا الشَّافِعِيَّ، وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ، وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَخُذُوا مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi‘i, Al-Awza‘i, atau Ats-Tsauri. Ambillah (hukum) dari tempat mereka mengambil.”
(Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:

«رَأْيُ الْأَوْزَاعِيِّ، وَرَأْيُ مَالِكٍ، وَرَأْيُ الشَّافِعِيِّ، كُلُّهُ رَأْيٌ، وَهُوَ عِنْدِي سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْحُجَّةُ فِي الْآثَارِ

“Pendapat Al-Awza‘i, pendapat Malik, dan pendapat Syafi‘i semuanya hanyalah pendapat—semuanya sama di sisiku. Sesungguhnya hujjah itu adalah pada atsar (hadis Nabi dan para sahabat).”

Barakallahu fiikum 
Wajazakumullahu khair.



Saturday, November 8, 2025

Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga



Ustadz Abdurrahman Al Amiry hafizahullohuta'ala
📗 Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga. 
📌 Masjid Al Azhar Summarecon 
🗓️ 8 November 2025, 09.00 WIB.


Nabi Muhammad mengajarkan tauhid kepada keluarga dan anak-anaknya, beliau mengajarkan pada Abdullah Ibnu Abbas (sepupu Nabi) yang masih keluarga dan anak-anak. 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ:
«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ».

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Ibnu Abbas berkata:
"Suatu hari aku berada di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:
*'Wahai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu;
jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu.
Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah;
jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'"

(HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hasan sahih).

Dalam hadist diatas ditunjukkan betapa tawadhunya Rasulullah, dalam membawa tunggangan didepan orang yang lebih muda.

Suatu ketika Umar bin Khattab hendak mengadakan rapat besar beserta para alumni badar dan menyertakan Abdullah Ibnu Abbas, Umar berkata "umurnya muda namun akalnya dewasa", hal ini  karena oleh Abbas sering didekatkan ke masjid dan berinteraksi dengan Rasulullah dan orang-orang Sholeh. 

Mengajarkan tauhid adalah sedari kecil sebagaimana Luqman mengajar anaknya ketika kecil.

Al-Qur’an – Surah Luqman ayat 13

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ 

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya:
‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’”

Apa makna "jagalah Allah" dalam hadist diatas ? 

(1) Menjaga batas-batas yang telah Allah tetapkan, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang haram, juga meninggalkan yang syubhat agar tidak terjatuh kedalam yang haram.

Abdullah Al Qassimi salah satu ulama yang terjatuh dalam syubhat karena mengambil pendapat orang-orang yang berada diluar koridor syariat hingga pada akhirnya nauzubillah menjadi ateis.

Batasan yang mudah dan jelas diantaranya adalah menjaga dan memperhatikan sholat anak-anak kita.
Surah Al-Baqarah ayat 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat dan (peliharalah) shalat tengah, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.”

Hadis dari Jabir bin Abdillah r.a.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ»

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim no. 82)

Bagaimana anak-anak berdiri dalam sholat ? letakkan disamping kita, dan kondisikan agar tetap dalam posisinya, ketika akan berpindah maka cegah agar tetap pada posisinya.

(2) Menjaga anggota badan dari maksiat dan hal-hal yang melanggar syariat, biasakan anak untuk berdzikir dan tidak mengeluh. Badan yang dijaga demikian akan mendapatkan kekuatan jiwa dan fisik, sebagaimana sahabat Rasulullah dan orang-orang terdahulu. Dosa dan maksiat menyebabkan fisik menjadi lemah, contohnya khamr & narkoba dll. Maka jaga fisik anak-anak kita katakan dan larang yang haram, katakan rokok haram dan cegah mereka darinya.

Hadis Qudsi (Sahih Bukhari no. 6502)

النَّصُّ العَرَبِيّ

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:

«إِنَّ اللَّهَ قَالَ:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ،
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،
وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ،
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا،
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ،
وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ،
وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ،
يَكْرَهُ الْمَوْتَ، وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ.»

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:

“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.
Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
penglihatannya yang dengannya ia melihat,
tangannya yang dengannya ia berbuat,
dan kakinya yang dengannya ia berjalan.
Jika ia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri;
dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi.
Dan Aku tidak ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku dalam mengambil nyawa seorang mukmin; ia membenci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya.”

Makna "jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu." adalah dengan menjaga agama Allah kita akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah.

Makna "Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah; jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.",  bersandar dan meminta hanya kepada Allah dalam perkara apapun bahkan dalam perkara yang sepele, sesuai hadist :

قال رسول الله ﷺ:

«لِيَسْأَلْ أَحَدُكُم رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا، حَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ»
رواه الترمذي (رقم 4/289) وحسّنه الألباني.

“Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta kepada Tuhannya segala kebutuhannya, bahkan hingga tali sandalnya jika terputus.”

Bahkan mintalah pertolongan Allah dalam berhenti dari perkara dosa dan maksiat.

جاء شابٌّ إلى النبي ﷺ فقال:
يا رسولَ اللهِ، ائْذَنْ لي بالزِّنا.
فأقبل القومُ عليه فزجروه، قالوا: مهْ مهْ.

فقال له النبي ﷺ:
«أُدْنُهُ».

فدنا منه قريبًا، فقال:
«أتحبُّه لأمِّك؟»
قال: لا والله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأمهاتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لابنتك؟»
قال: لا والله يا رسولَ الله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لبناتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لأختك؟»
قال: لا والله جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأخواتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لعمَّتِك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لعمَّاتِهم».

قال: «أفتُحِبُّه لخالتك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لخالاتهم».

ثم وضع رسول الله ﷺ يده عليه وقال:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ».

قال: فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيءٍ.

رواه الإمام أحمد (رقم 22211) وحسّنه الألباني.

Seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

“Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.”

Para sahabat marah dan menghardiknya. Namun Nabi ﷺ berkata, “Dekatlah kemari.”

Pemuda itu mendekat. Lalu Nabi ﷺ bertanya:

“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Demikian pula manusia tidak suka itu dilakukan kepada ibu mereka.”

“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada anak perempuanmu?”
“Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Manusia juga tidak suka untuk anak-anak perempuan mereka.”

Nabi ﷺ mengulang tanya yang sama tentang saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — pada semuanya pemuda itu menjawab: “Tidak.”

Lalu Nabi ﷺ meletakkan tangannya pada pemuda itu dan berdoa:

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Setelah itu, pemuda tersebut tidak lagi tertarik kepada zina.

( HR Imam Ahmad 22211 )

Makna "Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.", meyakini segala sesuatu terjadi dengan ijin dan takdir dari Allah, maka mintalah hanya kepada Allah dan inilah pentingnya untuk memperkuat Tauhid dalam keluarga.

Barakallahu fiikum.
Jazakumullahu khair.

Sunday, October 12, 2025

Antara akal dan syariat

 ﷽

Ustadz Maududi Abdullah hafizahullohuta'ala
🗓️ Ahad, 21 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 12 Oktober 2025
🕘 Ba'da Maghrib -  Selesai
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
📡 Live Streaming

https://www.youtube.com/watch?v=fR8qx8hn54w

ANTARA AKAL DAN SYARIAT

Mengapa perintah agama terkadang terasa tidak masuk akal bagi sebagian orang? Di mana batasan logikamu dalam menerima kebenaran mutlak? Tabligh Akbar kali ini akan mengupas Akal dan Syariat dalam bingkai keimanan. Pahami peran akal yang sesungguhnya agar ia menjadi kendaraan menuju ketaatan, bukan jurang keraguan. 

Surah Al-Qashash ayat 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Allah memberikan semua karunia pada kita berupa fasilitas dunia yang kita gunakan untuk beribadah untuk kepentingan akhirat, apapun jenis ibadah yang dilakukan tanpa didasari dengan tauhid maka amal ibadah itu tidak akan bernilai ibadah.

Surah Az-Zumar ayat 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.

Banyak saat ini orang yang mengagung-agungkan akal dan logikanya melebihi syariat, syariat Allah turunkan tidak bertabrakan dengan akal dan bertujuan untuk mengarahkan akal kejalan yang benar. 

Mengapa akal dan logika tidak layak didahulukan dari syariat : 
1. Logika tidak layak dijadikan syariat, syariat itu sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah.
2. Logika adalah ilmu manusia, sehingga memiliki keterbatasan dikarenakan akal manusia yang terbatas. 
Surah An-Najm (53) ayat 3–4

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Akal manusia dapat dipengaruhi faktor yang diluar akal itu sendiri, banyak hal yang ada disekitarnya seperti lingkungan, kemajuan zaman, pendidikan, doktrin orangtua, dll. 
3. Bahasan syariat banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib. Sebagai contoh pembahasan adzab kubur dan nikmat kubur.
4. Akal sangat mungkin terpengaruhi oleh gangguan dan godaan syaitan.
5. Allah tidak pernah dan tidak mungkin salah, berbeda dengan akal yang memiliki keterbatasan dan mungkin salah.
Sikap orang beriman bila datang syariat dari Allah dan Rasulullah adalah beriman sami'na wa atho'na terhadap syariat Allah, Surah Al-Baqarah 285 :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ...

Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.

Dalam Al Qur'an banyak ayat yang mengajak akal untuk berfikir pada Surah At-Thur (52): Ayat 35

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) ?

Surah Al-Mu’minun (23): Ayat 115

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?

Surah An-Nisa (4): Ayat 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Jazakumullahu khayr 
Barakallahu fiikum.


Saturday, October 4, 2025

MENDIDIK ORANG TUA DI ZAMAN GADGET

 ﷽

Di era serba digital ini, tantangan mendidik anak semakin besar. Bagaimana caranya kita sebagai orang tua bisa menjadi nahkoda terbaik di tengah arus deras gadget dan media sosial?

🎙️ Ustadz Muflih Safitra, M.Sc حفظه الله

🗓️ Sabtu Pagi, 12 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 4 Oktober 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
📡 Live Streaming

https://youtube.com/live/heXY8kP4dlg

Kita hidup dizaman digital :
1. Manusia tidak lepas dari gadget.
2. Anak kecilpun tidak lepas gadget
3. Internet masuk kesemua hal.

Bahaya penggunaan Gadget :
1. Stimulasi negatif pada pertumbuhan otak.
Usia 0 - 2 tahun masa pertumbuhan otak paling cepat, dan berkembang hingga 21 tahun. stimulasi gadget mengakibatkan defisit perhatian.
2. Hambatan perkembangan.
Saat menggunakan gadget kecenderungan anak kurang bergerak sehingga berdampak pada perkembangan.
3. Obesitas.
Penggunaan gadget berlebihan meningkatkan resiko obesitas sebanyak 30 % dan dapat meningkatkan resiko stroke dan menurunkan harapan hidup.
4. Gangguan tidur.
Orangtua tidak mengawasi anaknya menggunakan gadget, sebuah studi menemukan 75% anak usia 9-10 tahun menggunakan gadget di kamar tidur, berdampak pada penurunan prestasi belajar.
5. Penyakit mental.
Penggunaan gadget berlebihan menjadi faktor penyebab meningkatnya laju depresi, defisit perhatian, autisme, gangguan bipolar dan gangguan perilaku.
6. Agresif.
Anak yang terpapar tayangan kekerasan digadget beresiko menjadi agresif, disebabkan tayangan pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan kekerasan lainnya.
7. Pikun digital.
Konten media kecepatan tinggi berpengaruh dalam meningkatkan resiko defisit perhatian, sekaligus penurunan daya konsentrasi dan ingatan. Pasalnya bagian otak yang berperan dalam melakukan hal itu cenderung menyusut.
8. Adiksi.
Kurang perhatian orangtua anak lebih cenderung dekat dengan gadget mereka, hal ini memicu adiksi mereka seakan-akan tidak dapat hidup tanpa gadget mereka.
9. Radiasi.
WHO mengkategorikan ponsel dalam resiko 2B karena radiasi yang dikeluarkan.
10. Tidak berkelanjutan.
Pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan, dengan demikian pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan.
11. Kerusakan ahlak.
12. Ketagihan onani.
13. Terjerumus pada freesex dan perilaku seks menyimpang.
14. Kerusakan otak.
15. Prestasi akademik menurun.

Kerusakan otak karena pornografi.
Pornografi dapat menyebabkan kecanduan yang dapat merusak otak. Bagian otak yang dirusak adalah Prefrontal Cortex : Mengendalikan hawa nafsu dan mengambil keputusan.

Bisnis pornografi bertujuan :
1. Uang.
2. Kecanduan.
3. Otak rusak.
4. Pengakses jadi pelanggan.

Cara pornografi masuk :
1. Mudah diakses.
2. Mudah didapatkan.
3. Aggressive.
4. Tidak perlu identitas.

Target pornografi :
1. Anak laki-laki : Kemaluan diluar, Otak kiri gampang fokus, Hormon sex testosterone.
2. Anak belum baligh : Otaknya belum bersambung, Sekali melihat langsung candu.
3. Anak 3S : Smart, sensitive, spiritual hampa.
4. Anak BLAST : Boring(bosan), Lonely(sendirian), Angry(marah), Sad(sedih), Tired(lelah).

Media pornografi :
1. Gadget.
2. Media Sosial.(WhatsApp, Telegram, Line}
3. Video klip.
4. Games.
5. Film.
6. Komik.
7. Novel.

Pola pornografi merusak anak :
1. Tidak sengaja melihat (takut, cemas,jijik).
2. Prefrontal Cortex belum matang, maka masuk ke pusat perasaan.
3. Keluar cairan Dopamin menjadi fokus.
4. Otak meminta lagi hingga hilang rasa jijik, cemas,takut.
5. Desentralisasi (tidak ingin melihat yang sama).
6. Kecanduan.
7. Melakukan (M,O,S beda jenis, LGBT).

Ciri kecanduan :
1. Kurung diri, habiskan waktu dengan gadget dan internet.
2. Ditegur soal gadget marah.
3. Berbicara menghindari kontak mata.
4. Mulai impulsif.
5. Berbohong.
6. Berbuat jorok.(sexual)
7. Sulit konsentrasi.
8. Menyalahkan orang lain.
9. Hilang empati.

Solusi :
1. Aturan dan batasan yang jelas tentang gadget.
2. Alihkan dengan aktivitas lain bersama anak.
Asosiasi dokter anak US dan Canada membuat aturan penggunaan gadget pada anak :
- 0-2 tahun, sama sekali tidak ada gadget.
- 3-5 tahun, 1 jam sehari.
- 6-18 tahun, 2 jam perhari.

Solusi kecanduan pada anak :
1. Orangtua sadar.
2. Orangtua belajar agama.
3. Perbaiki kualitas ibadah.
4. Perbaiki pola komunikasi.
5. Suami istri saling mengisi rohani.
6. Ayah duduk berceramah dihadapan anak.
7. Ajarkan pendidikan seksual sejak dini.
8. Hindari contoh tidak baik, selfie.
9. Tunjukkan kasih sayang.
10. Awasi kontrol pertemanan.
11. Jauhkan dari permainan yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.
12. Maksimalkan waktu untuk anak, khususnya ayah yang bekerja.
13. Ibu sebaiknya tidak bekerja, kecuali sangat butuh dan penting.

Barakallahu fiikum 
Wa jazakumullahu khair. 

Sunday, September 28, 2025

TIGA PILAR UTAMA PENDIDIKAN ANAK

 ﷽

🎙️ Ustadz Abu Qotadah حفظه الله

🗓️ Ahad Pagi, 6 Rabiul Akhir 1447 H
🗓️ 28 September 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung

https://www.youtube.com/watch?v=bky8iodc0Fc

Mendidik anak tentu harus memiliki ilmu, terlebih di zaman saat inibyang begitu luar biasa tantangannya, maka perlulah kita duduk sejenak mengevaluasi dan mencatat bekal tambahan untuk mendidik anak-anak kita.

Pada intinya tujuan pendidikan anak adalah mendidik anak kita agar berakidah lurus, diantara penyebab kegagalan pendidikan pada umumnya di Indonesia :
1. Infrastruktur organisasi, artinya organisasi baik pemerintah maupun swasta yang kurang baik, SDM yang kurang kompeten dan konflik didalamnya.
2. Infrastruktur politik, kebijakan yang kurang mendukung pendidikan, tidak memahami fungsi dan tujuan pendidikan.
3. Infrastruktur sosial, terkait dengan cara pandang dalam melihat (menilai) pendidikan, yang berakibat proses pendidikan terhambat baik dari sisi intelektual, sisi moral, dan sisi skill (keahlian).

Masih dianggap oleh 30% rakyat Indonesia, bahwa pendidikan adalah kewajiban, bukan sebagai dorongan pribadi, sebagian yang lain dorongan yang kedua, bahwa pendidikan hanya untuk nilai dan sekedar ijazah atau gelar, dorongan yang yang ketiga, bahwa pendidikan itu untuk dapat bekerja.

Yang akan dibahas pada kajian ini adalah pada point ketiga yaitu Infrastruktur Sosial, pola pikir yang keliru adalah bahwa pendidikan adalah dengan menyekolahkan anak, pendidikan adalah proses perjalanan hidup bukan sekedar proses sekolah, anak memiliki 4 dimensi kehidupan :
1. Kehidupan anak dalam lingkungan keluarga.
2. Kehidupan anak dalam lingkungan sekolah.
3. Kehidupan anak dalam lingkungan masyarakat.
4. Kehidupan anak dalam lingkungan digital atau media.

Ketika pendidikan ada dalam dimensi keluarga, maka seyogyanya orangtua memahami bagaimana mendidik anak. Dari proses pendidikan ini akan sangat mempengaruhi anak, 3 pilar yang mempengaruhi pendidikan anak :
1. Tingkat kesadaran orangtua.
2. Kompetensi dan pengetahuan orangtua dalam mendidik anak.
3. Nilai kepribadian orangtua.

1) Keturunan yang baik dan shaleh/shalehah adalah sebuah harapan.
Harapan orangtua agar anak menjadi bertakwa, berakhlak mulia dan berwawasan luas adalah sebuah proyek, misi spiritual dan impian luhur yang tertanam dalam hati orangtua yang berakar pada nilai-nilai tauhid, pendidikan ahlak, akidah dan ilmu :
a) Doa sebagai senjata utama. 
b) Ibadah berjamaah dan dzikir. 
c) Wawasan luas berbasis nilai. 

Pertama : Jadikan rumah sebagai tempat belajar yang menyenangkan., libatkan anak dalam proses pendidikan, libatkan dalam mengambil keputusan. 
Pengorbanan yang diperlukan :
a) Waktu dan perhatian. 
b) Kesabaran dan konsistensi. 
c) Investasi ilmu dan diri. 

Surat Ibrahim ayat 40 :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, demikian juga anak cucuku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Surat Ali ‘Imran ayat 38 :

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Artinya:
“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya. Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa’.”

Surat As-Saffat ayat 100–102 :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ibrahim) berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”

Mendidik anak tanpa interaksi :
1. Berdoa meminta kepada Allah anak-anak shaleh/shalehah. 
2. Menjadikan diri kita orang yang shaleh/shalehah. 

Penjelasan 3 pilar utama pendidikan anak :

1) Tingkat kesadaran orangtua.
Yang dimaksud adalah pemahaman mendalam tentang pentingnya peran pendidik utama anak. Menyadari bahwa proses pendidikan dimulai dari rumah, 5 kesadaran Orangtua :
a) Anak sebagai nikmat dan amanah. Dalilnya surat Al-Kahfi ayat 46 :

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَاقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا ٤٦

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
anak-anak juga dapat menjadi fitnah bagi orangtuanya, dalilnya Surat At Taghabun 15 :

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah sebagai cobaan (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

b) Mendidik anak adalah kewajiban syar'i, dalilnya surat At Tahrim 6 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

c) Fitrah manusia, memahami fitrah manusia yang wajib dijaga dan dikembangkan, dalilnya :
Surah Ar-Rūm ayat 30 :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dalam hadist :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Fitrah : Kondisi suci dan lurus yang diberikan Allah saat manusia dilahirkan, 8 dimensi fitrah :
1. Fitrah keimanan (islam, tauhid & kebaikan).
2. Fitrah bakat.
3. Fitrah belajar & bernalar.
4. Fitrah sosialisasi & individualistis.
5. Fitrah jasmani.
6. Fitrah seksualitas & generatif.
7. Fitrah estetika & bahasa.
8. Fitrah perkembangan.

Apa peran pendidikan dalam menjaga fitrah :
1. Menjaga kemurnian fitrahnya.
2. Mengembangkan fitrahnya.


d) Sadar akan keunikan individual.
Sadari bahwa setiap anak memiliki keunikan individu, dan jangan pernah membanding-bandingkan anak.
Surat Ar-Rum ayat 22 :

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

e) Pemenuhan kebutuhan holistik (asuh, asih & asah), pendidikan harus meliputi seluruh aspek :
Asuh : Kebutuhan fisiknya, seperti makanan yang halal, kesehatan fisiknya dan perlindungan.
Asih : Kebutuhan emosionalnya, seperti pemberian kasih sayang, perhatian dan rasa aman.
Asah : Kebutuhan intelektualnya, seperti stimulasi belajar dan pengembangan kemampuannya.

2) Kompetensi dan pengetahuan orangtua dalam mendidik anak.
Keahlian dan keterampilan praktis dalam mendidik dan membimbing anak. Kemampuan ini meliputi kemampuan komunikasi dan pemahaman mendalam tentang pendidikan, apa saja kompetensi yang harus dimiliki orangtua :
1. Kompetensi pengetahuan keislaman.
2. Kompetensi pedagogik (ilmu dan seni mendidik).
   a. Memahami tahap perkembangan anak.
   b. Prinsip tarbiyah bilhikmah.
   c. Desain lingkungan belajar kondusif.
   d. Pendekatan berbasis fitrah.
   e. Membiasakan pembelajaran aktif dan reflektif.
   f. Membentuk karakter dan kebiasaan baik.
3. Kompetensi komunikasi efektif dan bermakna.
4. Kompetensi berdiskusi dan berpikir kritis.
5. Kompetensi kepemimpinan dan keteladanan.
6. Kompetensi adaptasi teknologi dan zaman.

3) Nilai kepribadian orangtua.
Karakter, ahlak, dan kepribadian orang tua sebagai teladan hidup. Karena anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. 

Barakallahu fiikum 
Jazakumullahu khair. 

Sunday, August 10, 2025

Bangun Keluarga dari Nol

 ﷽

📌 Bangun Keluarga dari Nol
👤 Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc — hafizhahullah

“Keluarga kokoh tak lahir dari kebetulan… mari kita bangun dari nol, dengan bimbingan ilmu dan iman.”

🗓 Ahad Pagi
16 Safar 1447H / 10 Agustus 2025
⏰ 09.00 WIB – selesai
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

https://www.youtube.com/live/RQBhKAXvvOE?si=PdZ8zJ7TZMEt6Ype

Ada 4 poin yang menjadi landasan kajian :

1. Kita semua harus sadar tujuan penciptaan kita (untuk beribadah). 
Menikah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat 56).

2. Kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki adalah masuk surga.
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(Ali ‘Imran ayat 185).
Kalimat 'mata' pada ayat diatas bermakna 'terbatas' sehingga semua kenikmatan yang ada hanyalah sementara.

3. Kita harus meyakini bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat.
Perkataan Ali bin Abu Thalib:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ رَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الآخِرَةَ قَدْ أَقْبَلَتْ مُشْمِرَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.
"Sesungguhnya dunia telah pergi menjauh, dan akhirat telah datang mendekat, dan masing-masing dari keduanya memiliki pengikut. Maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah (waktu untuk) beramal tanpa hisab, sedangkan besok adalah hisab tanpa amal."
Hadist Rasulullah :
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
"Apa urusanku dengan dunia ini? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu ia pergi dan meninggalkannya."
(Imam Ahmad - Musnad Ahmad 2748)

4. Berlomba-lomba mengejar akhirat.
Menikah adalah ibadah dan menikah adalah bagian ibadah, dan ibadah yang panjang waktunya dan merupakan anjuran :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(رواه البخاري رقم 5066، ومسلم رقم 1400)
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu (menanggung pernikahan), maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya."

Salah satu jalan yang dapat menjadi pendukung masuk surga adalah menikah, 
Harta yang baik disimpan dirumah :
1. Lisan yang selalu berdzikir.
2. Hati yang pandai bersyukur.
3. Istri yang membantu suaminya untuk selalu taat pada Allah.
خَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
(رواه مسلم رقم 1467)
"Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah."

Apakah tujuan menikah : 
1. Nikah adalah fitrah manusia, untuk memenuhi kebutuhan asasi manusia.
2. Membentengi ahlak, budi pekerti dan menundukkan pandangan.
3. Membangun dan menegakkan rumah tangga yang islami (sesuai syariat).
4. Meningkatkan ibadah kepada Allah.
قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ، وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ. وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendatangi istrinya untuk menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Bagaimana menurut kalian jika ia meletakkannya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula jika ia meletakkannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala. Dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.”
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.”
(HR. Muslim)
5. Memperoleh keturunan yang Sholeh.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.” (As-Saffat: 100)
النَّصُّ العَرَبِيّ :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
"إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ"
(رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Kriteria pasangan Wanita untuk dinikahi :
النص العربي :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ :
«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »
(رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kriteria pasangan Pria untuk dinikahi :
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ…
“Jika datang kepadamu orang yang kamu ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia... Jika tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” 
(HR. Tirmidhi 1084) 

Langkah - langkah memilih pasangan Wanita shalihah :
1. Lihat dari cara berpakaian, tidak terlihat lekuk tubuhnya.
2. Baik akhlaknya, lihat kehidupan sosialnya.
3. Menjaga lisan.
4. Tidak bermudah-mudahan dengan laki-laki bukan mahram.
5. Berbakti kepada orang tua.
6. Berbuat baik dengan tetangganya.
7. Cari yang bapaknya mengendalikan rumah tangga.
8. Utus Ibu untuk melihat calon menantunya.

Mencari pasangan menurut ulama :
1. Cari yang baik agamanya.
2. Sekufu / sebanding dalam hal kedudukan, agama, dan nasab. Adapun secara syariat menurut Imam Syafii sebanding dalam ¹agama, ²nasab, ³kemerdekaan, ⁴pekerjaan, ⁵terlepas dari aib & ⁶kekayaan, sehingga setara dalam keagamaan dan status sosial.
3. Mencari yang enak dipandang, tujuan dari syariat nadzhor (melihat calon pasangan) dan ta'aruf.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ:
إِذَا أَحَدُكُمْ أَعْجَبَتْهُ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ فِي قَلْبِهِ فَلْيَعْمِلْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ
Jika salah seorang dari kalian dibuat terpesona oleh seorang wanita sehingga menimbulkan keinginan di hatinya, maka hendaklah ia mendatangi (hubungan suami-istri dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada dalam dirinya.(H.R. Muslim)

Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.

Wednesday, July 30, 2025

Pokok - Pokok Akidah (Bagian 3)

 ﷽

Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Kitab Ushul Sunnah - Imam Ahmad bin Hambal.

https://www.youtube.com/live/g4ZsalsuEks?si=aceHZW-nfPYDzbYl

Faidah-faidah dari mempelajari kitab-kitab aqidah ahlu sunnah para salaf :
1. Mengokohkan kita diatas pondasi yang kuat dengan Al Qur'an dan Sunnah.
2. Membentengi diri dari syubhat ahlul bid'ah.
3. Memahami aqidah dengan mudah (kitab aqidah ditulis para ulama dengan bahasa yang mudah dipahami).
4. Menguatkan hubungan antara kita dengan ulama-ulama salaf (penulis kitab).
5. Membentengi para pemuda dengan aqidah yang benar dan kokoh.

Menjauhi mendebat para pengikut hawa nafsu dan duduk bersama mereka, serta meninggalkan berdebat dalam agama. 

1) Larangan duduk dengan pengikut hawa nafsu (ahlul bid'ah).
Agama ini bukan berdasarkan hawa nafsu, perasaan ataupun akal, agama ini berdasarkan wahyu dari Al Qur'an dan Hadist.

Sifat dasar manusia adalah lemah ;

QS. An-Nisa 28 :
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah.

QS. Al Kahfi 28 :
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَاةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًۭا
Bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya melewati batas.

Hadist :
مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api (pandai besi). Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu (minyak itu), atau kamu membeli darinya, atau kamu mencium bau harum darinya. Sedangkan peniup api bisa jadi membakar pakaianmu, atau kamu mencium darinya bau yang busuk. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil mengapa ulama melarang duduk dengan ahlul bid'ah :

QS. Al-An'am 68 :
وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan engkau lupa, maka janganlah engkau tetap duduk bersama orang-orang zalim itu setelah teringat.

Menurut sahabat Ibnu Abbas : Masuk didalam ayat ini adalah ahlul bid'ah.
Menurut Imam Al Syauqani : Terdapat pelajaran dalam ayat tersebut, apabila tidak dapat mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan maka setidaknya jangan ikut duduk, agar tidak dijadikan alasan pembenaran oleh orang awam terhadap kebid'ahan mereka. Karena lebih besar mudharatnya dibanding duduk dengan ahli maksiat.

HR. al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad :
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ
Larilah dari orang yang mengidap lepra sebagaimana engkau lari dari singa.

Sedangkan bid'ah lebih berbahaya daripada penyakit dunia.

Hadist riwayat Abu Dawud no. 4319 :
 مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ
Barang siapa yang mendengar tentang (kemunculan) Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sungguh seseorang mendatanginya dalam keadaan merasa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena terpengaruh oleh syubhat (keraguan dan tipu daya) yang dibawanya.

Dajjal memiliki 2 makna :
1) Dajjal akbar, yang keluar pada akhir zaman.
2) Dajjal dengan makna para pendusta (para ahlul bid'ah termasuk didalam kategori ini).

Hadist riwayat Ahmad no. 1473, Darimi :

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَرَأَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَضِبَ وَقَالَ:
«أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيَضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ، فَيُخَبِّرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ...»

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Umar datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa sebuah tulisan dari ahli kitab (Taurat), lalu ia membacanya kepada Nabi ﷺ. Maka Nabi pun marah seraya bersabda:

'Apakah engkau ragu dan bingung, wahai Ibnul Khattab? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa ajaran yang putih bersih. Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang apa pun, karena bisa jadi mereka mengabarkan kebenaran lalu kalian mendustakannya, atau mereka mengabarkan kebatilan lalu kalian membenarkannya…'"

Dalil dari ijma ulama ahlu sunnah :

- Nukilan Hasan. Al Basri : Jangan duduk dengan ahlul bid'ah, jangan mendebat mereka dan jangan mendengarkan mereka.
- Sikap Imam Ibnu Sirrin : Ketika ahlul bid'ah hendak membacakan satu hadist dari ahlul bid'ah, beliau tidak mau mendengarkan.

Mengapa para ulama melarang hal ini ? 
"Karena hati itu lemah dan syubhat kencang menerpa".

Apa bahaya dari semua itu (duduk dengan ahlul bid'ah) ?
1. Dikhawatirkan terkena syubhat dan tak sanggup untuk membantah.
2. Menentang larangan Al Qur'an dan hadist.
3. Menjadikan kita mencintai mereka, padahal agama teman mempengaruhi seseorang.
المرءُ على دينِ خليلِه، فلينظرْ أحدُكم من يُخالِلْ
Seseorang itu berada di atas agama (gaya hidup) temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad. Dihasankan oleh al-Albani)
4. Menguatkan mereka dalam kebid'ahan.
5. Menjadi fitnah bagi orang-orang awam.

Syubhat adalah sallah satu penyakit hati yang berbahaya dan sumber kerusakan agama. Penyakit hati ada 2 :
1. Syubhat, kerancuan dalam agama yang menyerupai kebenaran.
2. Syahwat.

طُوبَى لِمَن كُفِيَ الفِتَنَ، ولِمَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ
Beruntunglah orang yang dijauhkan dari fitnah, dan beruntung pula orang yang diuji lalu bersabar.
(HR. Abu Dawud dan al-Hakim, disahihkan oleh al-Albani)

Bagaimana seorang muslim menyikapi syubhat :
1) Langkah sebelum terkena syubhat, adalah dengan menjauhinya, sebagaimana sikap ulama-ulama terdahulu.
2) Langkah bila terpapar syubhat adalah dengan melakukan hal berikut :
a) Hendaknya tegar.
b) Bergantung pada Allah dan banyak berdoa.
اللّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya. Dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzi)
c) Tidak larut menyimpannya, bersegera melepaskan diri.
d) Bersegera pergi mengobatinya, ke ulama Rabbani yang menguasai Al Qur'an dan As Sunnah.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(QS. An-Nahl: 43 dan QS. Al-Anbiya: 7)
e) Pegang erat-erat kaidah pokok-pokok agama.


2) Larangan berdebat dengan ahlul bid'ah.

Debat atau jiddal terbagi 2 :

1. Debat yang tercela, yaitu jika debat untuk membantah kebenaran, memenangkan kebathilan, tanpa ilmu, tidak jujur atau dengan cara-cara yang kotor.

Dalilnya : 

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ
Tidak ada yang memperdebatkan ayat-ayat Allah selain orang-orang yang kafir. Maka janganlah engkau terperdaya oleh perjalanan mereka di negeri-negeri.
(QS. Ghafir: 4)

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ
Tidaklah suatu kaum sesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dinyatakan hasan oleh al-Albani)

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia berada di pihak yang benar.
(HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani)

2. Debat yang diperbolehkan/ disyariatkan, jiddal bagi mereka yang memiliki ilmu yang kuat, dengan cara yang baik dan benar serta terdapat manfaat yang lebih besar dibandingkan mudharatnya, namun tetap dengan kaidah bahwa hukum asalnya adalah tetap menjauhi jiddal.

ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
(QS. An-Nahl: 125)

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya – dinyatakan hasan)

Barakallahu fiikum 
Wa jazakumullahu khair.




Sunday, July 27, 2025

Tabligh Akbar - Makna Sebuah Kesabaran.

 ﷽

Di balik tangis yang tertahan,
ada pahala yang disiapkan.
Di balik lelah yang tak terlihat,
ada ampunan yang Allah janjikan.

Kesabaran bukan sekadar diam,
tapi menerima ketetapan-Nya dengan hati yang ridha,
dan terus melangkah dengan harapan akan balasan yang agung di sisi-Nya.

🎙 Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A. — Hafizhahullah

https://www.youtube.com/live/tSgrrwvePVE?si=_pDgjofcS2z_Hh0D

Surah Ali 'Imran (3) ayat 106

Arab: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَـٰنِكُمْ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

Pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah (lain) menjadi hitam. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam (kepada mereka dikatakan), 'Mengapa kamu kafir setelah beriman?' Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.

Kelak diyaumil qiyamah Allah akan mengumpulkan manusia sesuai dengan golongannya, maka Ahlu sunnah juga Allah kumpulkan karena kesamaan aqidah dan manhaj.

Dzikrullah adalah bentuk mengingat Allah, diantara ciri ahlul Jannah 

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًۭا وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur bersujud dan bertasbih memuji Tuhan mereka, sedang mereka tidak menyombongkan diri.

Sabar dalam makna bahasa : Menahan diri, dari semua perbuatan yang merugikan dirinya baik didunia maupun diakhirat, dan sabar itu pahit, seperti namanya yaitu buah Sobar, yang pahit rasanya namun bermanfaat / nikmat hasil akhirnya.

1. Sabar itu bertingkat-tingkat.

Manusia yang tingkat sabarnya paling tinggi adalah Ulus Azmi - dalilnya Al Ahqaf 35

فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا سَاعَةًۭ مِّن نَّهَارٍۢ ۚ بَلَـٰغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana para rasul yang mempunyai keteguhan hati telah bersabar (Rasul Ulul Azmi : Nuh, Ibrahim, Musa, Isa & Muhammad), dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan (kepada mereka), seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. Suatu penyampaian (yang sempurna). Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.

Namun bukankah Nabi yang dikenal sabar adalah Nabi Ayub ? Namun tidak masuk dalam Ulul Azmi. Sabarnya Nabi Ayub karena sabar menghadapi musibah, sedangkan sabarnya Ulul Azmi adalah sabar dalam berdakwah menyampaikan risalah. Sabar karena dakwah lebih tinggi statusnya dari sabar karena musibah, sehingga sabar karena dakwah menjadi sebab tidak akan tergolong dalam kelompok orang yang merugi. Dalilnya surah Al Asr :

1. وَالْعَصْرِ
2. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
3. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Puncak ahlak yang paling baik adalah Ahlak Rasulullah, sehingga beliau dimusuhi bukan karena ahlak maupun pribadinya namun dimusuhi karena dakwahnya.

Pada saat Rasulullah hijrah ke Madinah, Rasulullah menugaskan Ali untuk menggantikan posisinya menjaga barang titipan orang-orang kafir dirumah Rasulullah dan mengembalikan barang-barang titipan tersebut.

Al Walid bin Mughirah (Ayah sahabat Khalid bin Walid) adalah orang kafir berpengaruh diatas Abu Jahal, dia dianggap sebagai manusia paling bijak di Mekah, sehingga ketika terdengar kabar akan masuk Islam maka Abu Jahal mendatangi Walid bin Mughirah menanyakan kebenaran berita tersebut, namun ia menyangkalnya, dan dalam usaha mereka untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah dengan cara mencari siapapun orang yang pernah mengetahui Rasulullah berdusta, namun tidak menemukan. Orang Musyrik Quraisy masa itu sangat menghargai kejujuran.

2. Sabar itu dapat dipelajari.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ...
Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, dan sesungguhnya kelembutan (sifat sabar) itu didapat dengan melatih diri untuk bersikap lemah lembut...
(Hadis ini diriwayatkan oleh al-Khaṭīb al-Baghdādī dalam kitab al-Faqīh wal-Mutafaqqih)

Sehingga majelis ilmu, adalah salah satu wasilah untuk mempelajari kesabaran.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ"
Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, para malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk-Nya) yang berada di sisi-Nya.(HR. Muslim, no. 2699)

3. Sabar itu tugas tanpa batas.

Sabar itu tidak ada ujungnya sehingga Allah jadikan pahala sabar tanpa batas. 

Surah Az-Zumar (39) Ayat 10
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.

Terkait ibadah puasa yang pahalanya tanpa batas, karena puasa menahan diri dari hal yang dihalalkan dan masuk kedalam kesabaran, dalam hadist Qudsi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ..."
"Rasulullah ﷺ bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya...." (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151)

4. Allah banyak memberikan pujian dan balasan yang indah bagi orang yang sabar.

Setidaknya ada salah satu janji Allah bagi orang yang sabar, dalam banyaknya ayat Al Qur'an yang menyatakan Allah mencintai orang yang bersabar.
Surah Ali 'Imran (3) Ayat 146
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran: 146, potongan akhir ayat)

Siapa orang yang paling Allah cintai adalah Khalilullah, Rasulullah dan Nabi Ibrahim adalah Khalilullah.

عَنْ جُندَبٍ رضي الله عنه، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا"
"Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari menjadikan seorang pun di antara kalian sebagai kekasih (khalīl). Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalīl (kekasih), sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalīl."
(HR. Muslim, no. 532)

5. Yang membuat orang bisa sabar adalah yakin.

Sehingga ketika seorang mukmin meyakini janji Allah, setiap musibah apapun akan terasa ringan, sehingga mereka dapat bersabar walaupun hingga titik yang mengancam nyawa. Dalil pada Al Qur'an :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah: 24)

Sehingga mempelajari Fadhilah Amal akan dapat memperkuat kesabaran. Manfaat belajar Aqidah dan Tauhid akan memperkuat keyakinan seseorang dalam menjawab tantangan hidup.

Pendidikan yang pertama bagi kaum muslimin di Mekah selama 13 tahun adalah penekanan pada masalah aqidah, pada masa itu diturunkan surat Al Mufassol (Surah Qaf hingga - An Nas) yang banyak membahas masalah aqidah.

6. Sabar adalah Solusi ketika mendapat masalah.

Sabar adalah solusi yang Allah sebutkan dalam Al Qur'an. Surat Al-Baqarah ayat 153

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Rasulullah menganjurkan mengucapkan Qaddarallāh, wa mā syā’a fa‘al ketika menghadapi musibah agar musibah dunia tidak menjadi musibah dalam agama :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
"الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَذَا، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ."
"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāh, wa mā syā’a fa‘al’ (Allah telah menakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan), karena perkataan ‘seandainya’ itu membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Menyikapi musibah :
1. Bersyukur terhadap nikmat yang masih tersisa, setidaknya bukan musibah dalam masalah agama.
2. Tidak berprasangka buruk pada Allah.

Barakallahu fiikum
Wa Jazakumullahu khair.













Wednesday, July 23, 2025

Pokok - Pokok Akidah (Bagian 2)



Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Kitab Ushul Sunnah - Imam Ahmad bin Hambal.

https://www.youtube.com/live/Ai57x7Shj6E?si=_gue1zc2uMItVDgV

Sumber Akidah adalah Hadist Rasulullah.

Pokok-pokok Akidah adalah :

1. Berpegang teguh pada ajaran para sahabat Rasulullah dan mengikuti mereka.
Hadist :
أَصْدَقُ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
 Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan. (HR. Muslim no. 867)

Definisi sahabat Rasulullah menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani :
1) Pernah bertemu dengan Rasulullah.
2) Beriman pada Rasulullah.
3) Mati dalam keislamannya.
Meskipun sebelumnya pernah kafir / murtad.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُۖ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (At-taubah 100)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian yang datang setelah mereka (tabi'in), kemudian yang datang setelah mereka (tabi'ut tabi'in). (Shahih al-Bukhari, no. 3651, Shahih Muslim, no. 2533)

Kewajiban kita pada para sahabat :
1. Wajib mencintai mereka.
حُبُّ الْأَنْصَارِ مِنَ الْإِيمَانِ، وَبُغْضُهُم مِنَ النِّفَاقِ
Mencintai kaum Anshar adalah bagian dari iman, dan membenci mereka adalah bagian dari kemunafikan.(Shahih al-Bukhari, no. 17 & Shahih Muslim, no. 75)
2. Mendoakan para sahabat.
3. Memuji mereka dan tidak mencela mereka.
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan menyamai satu mud (takaran tangan) yang mereka infakkan, bahkan tidak pula setengahnya. (Shahih al-Bukhari, no. 3673)
Karena mencela sahabat : 1)Mencela Allah 2)Mencela Nabi 3)Mencela Agama Islam 4)Mencela mahluk Allah.
4. Berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah dengan pemahaman para sahabat. 
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dipilihnya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.(QS. An-Nissa 115)

Mengapa harus mengikuti para sahabat Rasulullah dalam beragama :
1. Allah dan Rasuluullah memuji para sahabat.
2. Sahabat adalah orang yang paling paham agama Islam.
3. Sahabat adalah orang yang paling semangat mengamalkan agama Islam.

Bagaimana mewujudkan berpegang teguh kepada Al Qur'an dan Hadist dengan pemahaman para sahabat Rasulullah :
1. Dengan cara mencintai Al Qur'an, hadist dan Atsar para Sahabat Rasulullah.
2. Dengan mentaati setiap perintah dan larangan.
3. Dengan cara mengilmui Al Qur'an, Hadist dan Atsar para sahabat.
4. Mengagungkan Al Qur'an, Hadist dan Atsar para Sahabat Rasulullah.
5. Meyakini bahwasanya tidak ada hidayah kecuali melalui Al Qur'an, Hadist dan Atsar para sahabat Rasulullah.
6. Memahami Al Qur'an dan Hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat, pemahaman diluar pemahaman tersebut adalah bathil.
7. Tegar dan istiqamah mempertahankan Al Qur'an, Hadist sesuai pemahaman para sahabat sampai akhir hayat.

2. Meninggalkan kebid'ahan, dan setiap bid'ah adalah sesat.
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ**، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barang siapa yang hidup sepeninggalku nanti, maka dia akan melihat banyak perpecahan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham (النَّوَاجِذ).'
Dan jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap bid'ah adalah kesesatan.HR. (Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676)

Menjauhi bid'ah termasuk didalamnya dalam perkara : 
1. Akidah.
2. Amalan.
3. Ucapan.

Kaidah menurut ulama : 
Hukum asal dalam masalah agama adalah haram sampai ada dalil yang menghalalkannya, adapun hukum asal dalam masalah dunia adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Mengapa Rasulullah melarang bid'ah, dampak negatif dari bid'ah :
1. Menuduh Islam belum sempurna. (Al Maidah 3)
2. Menuduh Rasulullah berkhianat / menyembunyikan syariat.
3. Menjadikan tandingan bagi Allah, karena yang berhak membuat syariat hanya Allah. (Ash-Shura 21)
4. Menyebabkan perpecahan umat.
5. Mematikan Sunnah.
6. Lebih dicintai Iblis dari maksiat, karena pelaku maksiat menyadari kesalahannya, sedangkan pelaku bid'ah tidak, bahkan meyakini yang dilakukan adalah ibadah.

Sebab tergelincir kedalam bid'ah :
1. Kejahilan / kebodohan.
2. Adanya tokoh-tokoh agama yang jahil.
3. Adat dan khurafat yang bertentangan dengan syari'at yang dipertahankan.
4. Mengikuti hawa nafsu (ahlul ahwa).
5. Berpaling dari pemahaman para sahabat.
6. Tasyabbuh / meniru orang-orang kafir.

Kaidah-kaidah dalam memahami masalah bid'ah :
1. Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang sampai ada dalil syariat.
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُورِ دُنْيَاكُمْ
Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.(HR. Muslim no. 2363)
2. Tidak ada bid'ah dalam urusan agama yang baik, setiap bid'ah dalam urusan agama adalah kesesatan.
3. Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada semangat dan banyak dalam bid'ah.
4. Niat yang baik tidak merubah perkara bid'ah menjadi baik. Karena syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ittiba.
5. Adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid'ah. Karena perbedaan pendapat bukanlah hujjah, hujjah adalah dari Al Qur'an dan hadits.
6. Tersebarnya kebid'ahan ditengah masyarakat tidak menunjukkan bolehnya.

Barakallahu fiikum 
Wa jazakumullahu khair.





Thursday, July 10, 2025

Tawassul & Syafaah

 ﷽

📗 Kitab Mukhtashar Aqidah Islamiyyah minal Kitāb was-Sunnah ash-Ṣaḥīḥah

Ustadz Abdullah Amir Maretan حفظه الله

https://www.youtube.com/live/mPFlHSX0Kgk?si=jH9Kq7E4kFG6mgoz

🏠 Masjid Al-Aziz
📍 Jl. Soekarno Hatta No. 662, Bandung

Apakah kita meminta syafaat dari hamba Allah yang masih hidup ? 
Syaikh menjawab kita meminta syafaat dari orang yang masih hidup dalam urusan dunia namun bukan dalam urusan akhirat, karena perkara ini adalah dibenarkan secara syariat.
Karena memberikan syafaat pada hamba Allah maka orang itu berhak mendapatkan pahala dari Allah, begitu juga sebaliknya, dalilnya surah An-Nisa ayat 85 :

مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقِيتًا

Barang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya; dan barang siapa memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalil dari hadist :

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ

Berilah syafaat (pertolongan atau bantuan), niscaya kalian akan diberi pahala. Dan Allah akan menetapkan keputusan melalui lisan Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki. 
(HR. al-Bukhari no. 1432, Muslim no. 2627)

Orang beriman akan selalu fokus pada kelemahan dirinya, agar dapat fokus memperbaiki kelemahan-kelemahan dirinya.


Kemudian syaikh beralih pada pertanyaan selanjutnya, apakah boleh memuji berlebihan terhadap Rasulullah ?
Memuji sesuai dengan kemuliaan Rasulullah, dan cara yang paling baik diantaranya dengan bershalawat kepada Rasulullah.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ...

Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar..." 
(QS. An-Nisa’: 171)

Perlu diingat bahwa syariat tidak membolehkan berlebihan dalam segala hal (ghuluw), karena diantara penyebab hancurnya umat-umat sebelumnya adalah ghuluw ; diantara penyebab hancurnya umat sebelumnya :

1. Harta.
2. Wanita.
3. Berlomba-lomba mengejar dunia.
4. Ghuluw dalam agama.

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena sikap berlebih-lebihan dalam agama.
(HR. An-Nasa’i no. 3057, Ibnu Majah no. 3029 – Hadis shahih)

Surah Al-Kahfi Ayat 110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Dalam ayat diatas Allah sebutkan hakikat Rasulullah adalah manusia biasa yang Allah berikan wahyu dan Allah yang mengutusnya.

لا تُطْرُوني كما أَطْرَتِ النصارى ابنَ مريمَ، فإنما أنا عبدُه، فقولوا عبدُ اللهِ ورسولُه

Janganlah kalian menyanjungku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.
(HR. Bukhari no. 3445)

Berdasarkan dalil Al Qur'an dan hadist diatas maka tidak boleh bagi kita mengatakan Rasulullah yang menggenggam surga dan neraka, atau yang menjadikan segala yang sulit menjadi mudah, karena pujian tersebut berlebihan atau melampaui batas.

قَالَ : ابْتَلَقْنَا فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ 
فَقُلْنَا : أَنْتَ سَيِّدُنَا. 
فَقَالَ : السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. 
قُلْنَا : وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا. 
فَقَالَ : قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ

(HR. Abī Dāwūd, shahīh menurut Al‑Albānī)  

Aku pernah bersama satu rombongan dari Bani ‘Āmir menemui Rasulullah ﷺ. 
Kami berkata: ‘Engkaulah Tuanku (Sayyidunā).’ 
Beliau menjawab: ‘Tuan yang sebenarnya adalah Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi.’ 
Kami berkata: ‘Dan Engkaulah yang terbaik di antara kami dari segi keutamaan dan yang teragung di antara kami dari segi kedudukan.’ 
Beliau bersabda: ‘Katakanlah apa yang ingin kalian katakan, atau sebagian dari apa yang ingin kalian katakan, dan jangan sampai setan membisikkan kepada kalian untuk berlebih‑lebihan.’

Berlebihan/ Ghuluw pada para Nabi-Nabi dan orang-orang shaleh adalah sifat kaum Nashara yang terjerumus menetapkan sifat Uluhiyyah dan Rububiyah pada para Nabi.

عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَا تَجْلِسُ أَنْتَ مِنِّي، وَجَوَارِيَّ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ، إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ، فَقَالَ: «دَعِي هَذَا، وَقُولِي بِالَّذِي كُنْتِ تَقُولِينَ»

(HR. Bukhari no. 4001 dan Muslim no. 892)

Rubaīʿ binti Muʿawwidh berkata:
Rasulullah ﷺ datang menemuiku pada pagi hari pernikahanku. Beliau duduk di atas tempat tidurku seperti engkau sekarang duduk kepadaku, sementara beberapa gadis kecil kami sedang memukul rebana dan meratapi orang-orang tua kami yang gugur dalam Perang Badar. Lalu salah satu dari mereka berkata: ‘Di antara kami ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tinggalkan ucapan itu, dan ucapkanlah seperti yang sebelumnya kalian ucapkan.’


Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.

 

Thursday, July 3, 2025

Tawassul & Syafaah

 ﷽

📗 Kitab Mukhtashar Aqidah Islamiyyah minal Kitāb was-Sunnah ash-Ṣaḥīḥah

Ustadz Abdullah Amir Maretan حفظه الله

https://www.youtube.com/live/y1mljKOm5oI?si=yNHC9I4aNfF48nR6

🏠 Masjid Al-Aziz
📍 Jl. Soekarno Hatta No. 662, Bandung

Syafā‘at adalah pertolongan agung yang kelak diberikan kepada sebagian hamba di hari kiamat, hanya dengan izin Allah. Sebuah keutamaan besar yang menunjukkan keluasan rahmat-Nya bagi mereka yang menjaga tauhid dan istiqamah di atas ketaatan. Mari pelajari hakikat syafā‘at, syarat-syaratnya, dan bagaimana meraih sebab-sebabnya.

Didalam kitab dipertanyakan apa yang dimaksud dengan Wasitatu Rasul - وسيط الرسول ? Rasul sebagai perantara disini dengan cara :

Dengan cara At Tabligh, dengan cara menyampaikan apa yang diturunkan Allah kepada Rasulullah dan hamba-nya. Dalilnya surah Al-Ma’idah (5): 67

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Agama ini telah sempurna karena Rasulullah telah menyampaikan seluruh syariat yang Allah turunkan, dalilnya :

Hadist :

 أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟
اللَّهُمَّ فَاشْهَدْ

“Ketahuilah, sudahkah aku menyampaikan (risalah)?”
“Ya Allah, saksikanlah!”
(HR. Al-Bukhari, no. 1623, HR. Muslim, no. 1218)

Surah Al-Ma'idah (5): 3

... ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًۭا ...

"... Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu ..."

Rasulullah memiliki 2 syafaat :
1. Syafaat Dunyawiyah, syafaat yang Nabi berikan saat beliau masih hidup, contohnya pada sahabiyyah Barirah dan suaminya.
2. Syafaat Ukhrowiyah, syafaat ini yang kita mohonkan pada Allah di akhirat kelak. Dalilnya Surah Az-Zumar ayat 44

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَـٰعَةُ جَمِيعًۭا ۖ

"Katakanlah: 'Hanya milik Allah segala syafaat.'"

Hadits riwayat al-Bukhari no. 7439

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ ٱلنِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ ٱلدَّعْوَةِ ٱلتَّامَّةِ، وَٱلصَّلَاةِ ٱلْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا ٱلْوَسِيلَةَ وَٱلْفَضِيلَةَ، وَٱبْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا ٱلَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ.

"Barang siapa yang mengucapkan (doa) ketika mendengar azan: 'Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan di surga) dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan', maka ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat."

Tidak semua umat Rasulullah mendapatkan syafaat beliau, sehingga masuk neraka dahulu dan paling akhir masuk ke surga, dalilnya :
HR. Bukhari no. 99 & Muslim no. 196

> قَالَ ﷺ: لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي ٱخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ ٱللَّهُ لِمَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا.

"Setiap nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan. Semua nabi telah mempercepat doanya, namun aku menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat. Dan itu, insya Allah, akan diberikan kepada siapa saja dari umatku yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun."

HR. At-Tirmidzi no. 2435, Abu Dawud no. 4721 – Hadits Hasan Sahih
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Syafaatku diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan dosa besar dari umatku."

Syarat mendapatkan syafaat Allah :
1. Allah izinkan.
2. Allah ridho.

Beberapa amalan yang dapat mendatangkan syafaat Allah :
1. Membaca dan mengamalkan Qur'an 
2. Memperbanyak Shalat dan Sujud.
3. Sholawat kepada Nabi.
4. Shaum.
5. Sholat jenazah.
6. Menuntut ilmu syari'ah.
7. Tinggal dan bersabar di Madinah.
8. Sabar dan mengharapkan pahala dari Allah (dalam hal khusus kehilangan anak yang belum baligh).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"مَا مِنْ مُسْلِمٍ تَمُوتُ لَهُ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ، إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ."

رواه البخاري (1249) ومسلم (2635).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim yang tiga anaknya meninggal sebelum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena rahmat-Nya kepada anak-anak itu.” (HR. Bukhari no. 1249 dan Muslim no. 2635).
9. Bersahabat dengan orang yang beriman.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه،
أنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ قالَ:

"فَيُقَالُ لِلْمُؤْمِنِينَ: انْطَلِقُوا، فَيُقَالُ لَهُمْ: أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا، قَدْ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ، فَيُقُولُونَ: رَبَّنَا قَدْ أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا، قَالَ: وَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ، وَيَشْفَعُ الْمَلَائِكَةُ، وَيَشْفَعُ الْمُؤْمِنُونَ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: بَقِيَتْ شَفَاعَتِي..."

 رواه مسلم (183)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Lalu dikatakan kepada orang-orang beriman: 'Pergilah dan keluarkan dari neraka siapa saja yang kalian kenal.' Maka mereka mengeluarkan banyak orang yang telah terkena api neraka. Lalu mereka berkata: 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan siapa yang Engkau perintahkan kepada kami.' Maka para nabi memberi syafaat, para malaikat memberi syafaat, dan orang-orang mukmin juga memberi syafaat. Maka Allah ﷻ berfirman: 'Sekarang tinggal syafaat-Ku (yang tersisa)...'" (HR. Muslim no. 183)


Barakallahu fiikum
Wa jazakumullahu khair.

Sunday, June 29, 2025

Bedah kitab Syarhus Sunnah (Bagian 2)

 ﷽

Ustadz Abu Qotadah hafizahullohuta'ala.

https://www.youtube.com/live/weYaeaj8Lu4?si=0e-v4M3AFd7RxJxG

Kita mengimani bahwa Allah telah menetapkan dan memberikan nikmat waktu dan hidup pada kita agar kita beribadah kepada Allah, berkaitan dengan tujuan hidup, yang pertama kita ajarkan kepada anak kita adalah tentang tujuan hidup.

Adz-Dzariyat (الذاريات) ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Ketika kita tahu bahwa karunia waktu adalah untuk ibadah, Allah dengan hikmah mengatur waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan untuk beribadah, sehingga kita harus mengetahui waktu dan tempat yang utama untuk beribadah.
Salah satu keutamaan ibadah ditentukan dengan waktu.

QS. At-Taubah: 36

> إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَـٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةًۭ كَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةًۭ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu; dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Diantara bulan-bulan tersebut adalah bulan Muharram, dalil haditsnya.

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ
HR. Muslim (no. 1163)

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam (tahajud).

Keutamaan bulan Muharram :
1. Tanggal 10 AsSyura, adalah hari kemenangan nabi Musa dari Fir'aun.
2. Tanggal 10 AsSyura, dijadikan waktu shaum oleh Rasulullah, puasa ini awalnya bersifat wajib sebelum datang syariat puasa Ramadlan.

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

HR. Muslim no. 1162
Puasa pada hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

3. Puasa AsSyura dianjurkan pada tanggal 9 dan 10 AsSyura. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَىٰ قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Jika aku masih hidup sampai tahun depan, pasti aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasu’a)."
(HR. Muslim no. 1134)


Hal yang perlu diperhatikan :
1. Ada sejumlah hadist palsu yang menyebutkan kekhususan keutamaan pada tanggal 1 dan 30 bulan Muharram.
2. Kita dianjurkan puasa Asyura, dengan kaifiatnya :
  1) Mencukupkan dengan hari ke 10 saja.
  2) Menambahkan dengan hari ke 9 dan 10.
  3) Puasa pada hari ke 9,10 dan 11.
3. Terdapat 2 bid'ah yang terkenal pada kaum muslimin, yaitu :
  1) Bid'ah hari berkabung pada 10 AsSyura yang dilakukan oleh orang-orang Syi'ah karena kematian Syadina Hussein pada hari tersebut.
  2) Bid'ah hari bergembira pada 10 AsSyura yang dilakukan kaum An-Nawashib yang mengkafirkan Ahlul bait.
4. Ghadir khum, keyakinan orang syi'ah 18 Dzulhijah sebagai hari pengangkatan Ali R.A menjadi Khalifah setelah Rasulullah.

Ketika menerima musibah :
1. Sabar, hukumnya wajib.
2. Ridho, hukumnya mustahab.
3. Bersyukur, karena terdapat hikmah dibalik musibah ; 1) menghapuskan dosa, 2) mengangkat derajat.

Yang dilarang ketika menerima musibah :
1. An-niyahah, meratapi histeris.
2. Tidak ridho terhadap ketetapan / takdir Allah.

Kembali kepada kitab Syarhus Sunnah 

Beriman kepada Takdir :
1. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
2. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah.
3. Semua yang Allah kehendaki terjadi telah tertulis di Lauhil Mahfudz.

Semua yang terjadi di alam semesta berada dalam pengetahuan Allah, dan Allah telah menjalankan semuanya sesuai dengan takdirnya yang Allah tuliskan di Lauhil Mahfudz.

Hukum beriman pada Qada dan Qodar, merupakan bagian dari rukun iman yang enam.
Al-Qamar ayat 49

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (yang telah Kami tetapkan).

Hadist Jibril – HR. Muslim no. 8

أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره

Yaitu engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.


Bagaimana beriman kepada takdir ?
1. Beriman pada takdir adalah bagian beriman kepada Allah : 
1) Beriman kepada Allah adalah bagian beriman kepada Rububiyah Allah, meliputi : 1) mengesakan Allah dalam penciptaan, 2) iman pada Allah dalam pengendalian dan kepemilikan. 3) iman bahwa Allah yang maha mengatur segala sesuatu.
2) Beriman kepada setiap nama Allah yang menunjukkan pada zat Allah dan sifat Allah.

Kedudukan iman kepada takdir ?
Merupakan syarat sahnya iman, tidaklah sah iman seseorang sehingga beriman kepada takdir.

Kita jelaskan tentang 2 hadist :

Hadist dari ‘Abdullah bin Mas’ud – Riwayat Muslim no. 144

ثلاثة لا يدخلون الجنة: مدمن الخمر، وقاطع الرحم، ومصدق بالسحر

Artinya:
Tiga golongan yang tidak akan masuk surga:
1) Pemabuk, 2) Pemutus tali silaturahmi, 3) Orang yang mempercayai sihir.

— (HR. Muslim no. 144)

Hadits Abdullah bin Umar tentang Qadariyah (orang yang tidak percaya takdir):

Riwayat Muslim (no. 8):

> عَنْ يُحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ، فَقُلْنَا: لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ، فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ، فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي، أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ، فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ، فَقُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا أُنَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ – وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ – وَيَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ.
قَالَ: إِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ.


Yahya bin Ya’mar berkata:
"Orang pertama yang berkata tentang penolakan takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani. Maka aku dan Humaid bin Abdurrahman pergi ke Makkah untuk haji atau umrah, dan kami berkata: 'Andai saja kita bisa bertemu salah satu sahabat Rasulullah ﷺ agar kita bisa menanyakan pendapat orang-orang itu tentang takdir.'

Kami pun bertemu Abdullah bin Umar di dalam masjid, lalu aku dan temanku mengapit beliau. Aku berkata: 'Wahai Abu Abdurrahman (kunyah Ibnu Umar), di wilayah kami muncul orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan belajar ilmu, namun mereka berkata bahwa tidak ada takdir, dan bahwa segala sesuatu terjadi baru (tanpa ketetapan sebelumnya).'

Maka Abdullah bin Umar berkata: 'Jika engkau bertemu mereka, katakan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah, jika salah seorang dari mereka menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, maka tidak akan diterima oleh Allah hingga mereka beriman kepada takdir.'

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist diatas :
1. Tidak sah iman seseorang hingga beriman pada takdir.
2. Orang yang tidak beriman pada takdir (sekte qodariyah) adalah kafir dan keluar dari islam.
3. Keutamaan menuntut ilmu.

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
(رواه مسلم، رقم 2699)
Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim 2699)
4. Mengambil ilmu dari orang yang mengetahui.

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَنْزِعُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
(رواه البخاري، رقم 100)
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia dengan mencabutnya langsung dari hati mereka. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa satu pun ulama, maka manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan. (HR. Bukhari, no. 100)
5. Ilmu diberikan kepada semua orang oleh ulama.

Fadhilah iman kepada takdir :
1. Menimbulkan karakteristik mukmin yang sempurna.
a) Nilai bertawakal dan ketergantungan diri pada Allah, karena meyakini semua adalah ketetapan Allah dengan tidak meninggalkan menempuh sebab.
b) Hidayah datang bukan hanya sekedar dari menuntut ilmu semata, namun sesuai dengan yang telah Allah takdirkan.
2. Menimbulkan tumakninah, karena meyakini semua telah Allah tetapkan.
يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَىٰ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَىٰ أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
(رواه الترمذي، رقم 2516، وقال: حديث حسن صحيح)

Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (takdir telah ditetapkan)." (HR. Tirmidzi no. 2516 – Hasan Shahih)
3. Seseorang akan sampai pada derajat Ridho terhadap segala ketetapan Allah, namun dilarang Ridho atau bersabar dalam musibah didalam agama, sebab ; 1) Allah telah memberikan manusia pilihan untuk menempuh jalan keselamatan, 2) Allah telah memberikan qudrah kemampuan untuk memilih, 3) takdir adalah Rahasia Allah, dan Allah telah memerintahkan melakukan kebaikan dan menghindari kemaksiatan.

Barakallahu fikum 
Wa Jazakumullahu khair.

Sebab-sebab Hati Berpenyakit

 ﷽ 📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala  🗓️ Sabtu Pagi,...