Saturday, November 22, 2025

Celah-celah setan masuk kedalam hati (bagian 3)

 ﷽

📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala 

📱 https://www.youtube.com/live/PMmqJoWpE40?si=_Xzp5ErXnWRhUV9k


7) Suudzon / Prasangka buruk. 

Jauhi prasangka buruk, Nasihat ulama "seorang mukmin akan mencarikan udzur bagi saudaranya, adapun orang munafik akan mencari ketergelinciran saudaranya."

Surat Al-Hujurât Ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Terdapat 3 dosa dari ayat diatas yang harus dihindari :

1. Suudzon/ berprasangka buruk.
2. Tajasus / mencari-cari kesalahan.
3. Ghibah / menggunjing kesalahan.

Hadist :

اِیَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta ucapan.
Jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan iri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
— (HR. Bukhari dan Muslim)

حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ

“Berbaik sangka adalah bagian dari baiknya ibadah.”
— (HR. Tirmidzi – hasan)

Dan buruk sangka paling buruk adalah berburuk sangka pada Allah, karena syaitan akan berusaha memasukkan perasaan ini kedalam hati manusia ketika mengalami musibah ataupun tertimpa hal-hal yang tidak diharapkan.

Macam-macam prasangka buruk :
1. Suudzon yang haram. 
Kepada sesama mukmin tanpa bukti dan kepada Allah.
2. Suudzon yang diperbolehkan. 
Kepada manusia yang memang dikenal penuh keraguan dan sering melakukan maksiat dan dosa.
Kepada manusia yang disertai data bukti dan fakta.
3. Suudzon yang dianjurkan.
Suudzon kepada musuh dalam satu pertempuran.
Para penegak hukum.
4. Suudzon yang wajib.
Suudzon yang dibutuhkan dalam rangka kemaslahatan syariat.
contohnya dalam perkara ilmu jarh dan ta'dil dalam menilai perawi hadist.

8) Al Ajalah / Terburu-buru 

Pada Al-Anbiyā’ ayat 37

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Aku akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kuasa)-Ku, maka janganlah kalian meminta-Ku menyegerakannya.”

Pada Al-Isrā’ ayat 11.

وَيَدْعُ الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu memang bersifat tergesa-gesa.”

Contoh ketergesa-gesaan yang tercela :

1. Tergesa-gesa dalam berdoa.

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
— HR. Bukhari dan Muslim

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan.’”

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا»
قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ.
قَالَ: «اللَّهُ أَكْثَرُ»

(HR. Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Hakim – shahih)

“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan sebuah doa—yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahmi—melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal:

1. Doanya dipercepat bagi dirinya,
2. Doanya disimpan sebagai pahala di akhirat,
3. Allah menolak darinya keburukan yang semisal dengan doanya.”

Para sahabat berkata: ‘Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’
Nabi ﷺ bersabda: ‘Allah lebih banyak (memberi).’

2. Tergesa-gesa saat iqomah dikumandangkan.

Disunnahkan mendatangai dengan tenang tidak berlari dan segera mengikuti gerakan imam tidak menunggu imam berpindah kegerakan berikutnya.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:
«إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Apabila kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju salat dengan tenang dan penuh wibawa, dan janganlah kalian berlari. Apa yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah, dan apa yang terlewat dari kalian, maka sempurnakanlah.”
— HR. Bukhari dan Muslim

3. Tergesa-gesa menghabiskan makanan.

Contohnya serupa dengan saat menghabiskan makanan karena hendak sholat.

إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ، وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
— HR. Bukhari dan Muslim

“Apabila makanan malam telah dihidangkan sementara salat telah ditegakkan, maka mulailah (selesaikanlah) makan malam itu terlebih dahulu.”

4. Tergesa-gesa dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ يَسْمَعُهُ

“Ucapan Rasulullah ﷺ adalah ucapan yang jelas dan terperinci, dipahami oleh setiap yang mendengarnya.”

(HR. Abu Dawud)

Riwayat lain:

كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ

“Beliau berbicara dengan cara yang jika ada orang yang menghitung ucapannya, niscaya ia dapat menghitungnya.”
(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Ahmad)


5. Tergesa-gesa dalam menuntut ilmu.

QS. Al-Qiyāmah ayat 16–19 dalam Arab dan artinya:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

“Janganlah engkau (Muhammad) menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menghafalnya).”

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membuatmu dapat membacanya.”

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Maka apabila Kami telah selesai membacakannya (melalui Jibril), ikutilah bacaannya itu.”

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Kemudian sesungguhnya Kami pula yang akan menjelaskannya.”


6. Tergesa-gesa dalam memberikan fatwa dan menjawab pertanyaan.
7. Tergesa-gesa dalam berdakwah.
8. Tergesa-gesa dalam memvonis.

9) Waswas.

Penyakit yang umumnya mengenai Al Abid / ahli ibadah namun tidak berilmu dan dibisikkan oleh syaitan kedalam hati manusia terutama saat beribadah sholat, karena sejatinya syariat Islam adalah mudah.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:

«إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا»

“Apabila salah seorang dari kalian merasa ada sesuatu dalam perutnya dan ragu apakah keluar atau tidak, janganlah ia keluar (membatalkan salat), sampai ia mendengar suara atau mencium bau.”
— HR. Muslim

Apabila seseorang ditimpa waswas, saran ulama :

1. Tidak memperdulikannya.
2. Mengambil sikap kebalikan.
3. Berlatih dengan sabar
4. Bayak berlindung dari godaan syaitan.
5. Pelajari cara ibadah yang benar sesuai Sunnah Rasulullah.

10) Ta'assub / fanatik.

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatik golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena fanatik golongan, dan bukan dari kami orang yang mati di atas fanatik golongan.”
— HR. Abu Dawud

Definisi Ta'assub menurut imam As Syaukani : engkau menjadikan semua pendapat dan ijtihad seseorang menjadi hujjah bagimu dan seluruh manusia. Sebaliknya dalil atau sumber adalah Al Qur'an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman para sahabat, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan, bahkan ulama pun dapat terjatuh pada kesalahan.

Pendapat Imam Syafi'i :

قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي»

“Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku.”

قَالَ الشَّافِعِيُّ:
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَدَعُوا مَا قُلْتُ»

“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ, maka ambillah sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah perkataanku.”

Pendapat Imam Ahmad :

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:

«لَا تُقَلِّدُونِي، وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا، وَلَا الشَّافِعِيَّ، وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ، وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَخُذُوا مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi‘i, Al-Awza‘i, atau Ats-Tsauri. Ambillah (hukum) dari tempat mereka mengambil.”
(Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:

«رَأْيُ الْأَوْزَاعِيِّ، وَرَأْيُ مَالِكٍ، وَرَأْيُ الشَّافِعِيِّ، كُلُّهُ رَأْيٌ، وَهُوَ عِنْدِي سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْحُجَّةُ فِي الْآثَارِ

“Pendapat Al-Awza‘i, pendapat Malik, dan pendapat Syafi‘i semuanya hanyalah pendapat—semuanya sama di sisiku. Sesungguhnya hujjah itu adalah pada atsar (hadis Nabi dan para sahabat).”

Barakallahu fiikum 
Wajazakumullahu khair.



Saturday, November 8, 2025

Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga



Ustadz Abdurrahman Al Amiry hafizahullohuta'ala
📗 Menanamkan Tauhid Dalam Keluarga. 
📌 Masjid Al Azhar Summarecon 
🗓️ 8 November 2025, 09.00 WIB.


Nabi Muhammad mengajarkan tauhid kepada keluarga dan anak-anaknya, beliau mengajarkan pada Abdullah Ibnu Abbas (sepupu Nabi) yang masih keluarga dan anak-anak. 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ:
«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ».

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Ibnu Abbas berkata:
"Suatu hari aku berada di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:
*'Wahai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu;
jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu.
Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah;
jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'"

(HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hasan sahih).

Dalam hadist diatas ditunjukkan betapa tawadhunya Rasulullah, dalam membawa tunggangan didepan orang yang lebih muda.

Suatu ketika Umar bin Khattab hendak mengadakan rapat besar beserta para alumni badar dan menyertakan Abdullah Ibnu Abbas, Umar berkata "umurnya muda namun akalnya dewasa", hal ini  karena oleh Abbas sering didekatkan ke masjid dan berinteraksi dengan Rasulullah dan orang-orang Sholeh. 

Mengajarkan tauhid adalah sedari kecil sebagaimana Luqman mengajar anaknya ketika kecil.

Al-Qur’an – Surah Luqman ayat 13

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ 

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya:
‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’”

Apa makna "jagalah Allah" dalam hadist diatas ? 

(1) Menjaga batas-batas yang telah Allah tetapkan, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang haram, juga meninggalkan yang syubhat agar tidak terjatuh kedalam yang haram.

Abdullah Al Qassimi salah satu ulama yang terjatuh dalam syubhat karena mengambil pendapat orang-orang yang berada diluar koridor syariat hingga pada akhirnya nauzubillah menjadi ateis.

Batasan yang mudah dan jelas diantaranya adalah menjaga dan memperhatikan sholat anak-anak kita.
Surah Al-Baqarah ayat 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat dan (peliharalah) shalat tengah, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.”

Hadis dari Jabir bin Abdillah r.a.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ»

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim no. 82)

Bagaimana anak-anak berdiri dalam sholat ? letakkan disamping kita, dan kondisikan agar tetap dalam posisinya, ketika akan berpindah maka cegah agar tetap pada posisinya.

(2) Menjaga anggota badan dari maksiat dan hal-hal yang melanggar syariat, biasakan anak untuk berdzikir dan tidak mengeluh. Badan yang dijaga demikian akan mendapatkan kekuatan jiwa dan fisik, sebagaimana sahabat Rasulullah dan orang-orang terdahulu. Dosa dan maksiat menyebabkan fisik menjadi lemah, contohnya khamr & narkoba dll. Maka jaga fisik anak-anak kita katakan dan larang yang haram, katakan rokok haram dan cegah mereka darinya.

Hadis Qudsi (Sahih Bukhari no. 6502)

النَّصُّ العَرَبِيّ

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:

«إِنَّ اللَّهَ قَالَ:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ،
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،
وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ،
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا،
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ،
وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ،
وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ،
يَكْرَهُ الْمَوْتَ، وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ.»

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:

“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.
Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
penglihatannya yang dengannya ia melihat,
tangannya yang dengannya ia berbuat,
dan kakinya yang dengannya ia berjalan.
Jika ia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri;
dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi.
Dan Aku tidak ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku dalam mengambil nyawa seorang mukmin; ia membenci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya.”

Makna "jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu." adalah dengan menjaga agama Allah kita akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah.

Makna "Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah; jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.",  bersandar dan meminta hanya kepada Allah dalam perkara apapun bahkan dalam perkara yang sepele, sesuai hadist :

قال رسول الله ﷺ:

«لِيَسْأَلْ أَحَدُكُم رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا، حَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ»
رواه الترمذي (رقم 4/289) وحسّنه الألباني.

“Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta kepada Tuhannya segala kebutuhannya, bahkan hingga tali sandalnya jika terputus.”

Bahkan mintalah pertolongan Allah dalam berhenti dari perkara dosa dan maksiat.

جاء شابٌّ إلى النبي ﷺ فقال:
يا رسولَ اللهِ، ائْذَنْ لي بالزِّنا.
فأقبل القومُ عليه فزجروه، قالوا: مهْ مهْ.

فقال له النبي ﷺ:
«أُدْنُهُ».

فدنا منه قريبًا، فقال:
«أتحبُّه لأمِّك؟»
قال: لا والله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأمهاتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لابنتك؟»
قال: لا والله يا رسولَ الله، جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لبناتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لأختك؟»
قال: لا والله جعلني الله فداءك.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لأخواتهم».

قال: «أفتُحِبُّه لعمَّتِك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لعمَّاتِهم».

قال: «أفتُحِبُّه لخالتك؟»
قال: لا والله.
قال: «ولا الناسُ يحبُّونه لخالاتهم».

ثم وضع رسول الله ﷺ يده عليه وقال:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ».

قال: فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيءٍ.

رواه الإمام أحمد (رقم 22211) وحسّنه الألباني.

Seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

“Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.”

Para sahabat marah dan menghardiknya. Namun Nabi ﷺ berkata, “Dekatlah kemari.”

Pemuda itu mendekat. Lalu Nabi ﷺ bertanya:

“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Demikian pula manusia tidak suka itu dilakukan kepada ibu mereka.”

“Apakah engkau suka jika itu dilakukan kepada anak perempuanmu?”
“Tidak, demi Allah.”
Nabi bersabda, “Manusia juga tidak suka untuk anak-anak perempuan mereka.”

Nabi ﷺ mengulang tanya yang sama tentang saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — pada semuanya pemuda itu menjawab: “Tidak.”

Lalu Nabi ﷺ meletakkan tangannya pada pemuda itu dan berdoa:

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Setelah itu, pemuda tersebut tidak lagi tertarik kepada zina.

( HR Imam Ahmad 22211 )

Makna "Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.", meyakini segala sesuatu terjadi dengan ijin dan takdir dari Allah, maka mintalah hanya kepada Allah dan inilah pentingnya untuk memperkuat Tauhid dalam keluarga.

Barakallahu fiikum.
Jazakumullahu khair.

Sebab-sebab Hati Berpenyakit

 ﷽ 📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala  🗓️ Sabtu Pagi,...